<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509</id><updated>2011-07-28T04:25:24.855-07:00</updated><title type='text'>hetero-logia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-116385141887316825</id><published>2006-11-18T04:01:00.000-08:00</published><updated>2006-11-18T04:19:01.883-08:00</updated><title type='text'>common room open house presents nu-substance 2007</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/nu_substance.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/nu_substance.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Public Festival at Common Room, Bandung - Indonesia, 1 -25 December 2006&lt;br /&gt;- Exhibition (Video Screening, gadgets, computer viruses, soundscape, instalation, robot, etc.)&lt;br /&gt;- Seminar (Developing local based creative community: artist, designers, architecht, scientist, programmer, philosopher, hacker, students, musicians, etc. are welcome)&lt;br /&gt;- Workshop (eksperimentative musical instrument, advance music production, locative digital archive, software programming, policy making, etc.)&lt;br /&gt;- Music Performance (electro-accoustic musical performance)&lt;br /&gt;- Market Day (local creative community product, art work, pilot project, etc.)&lt;br /&gt;- Public Campaign: Harm Reduction Day 2007!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See you there!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-116385141887316825?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/116385141887316825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=116385141887316825' title='41 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/116385141887316825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/116385141887316825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2006/11/common-room-open-house-presents-nu.html' title='common room open house presents nu-substance 2007'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>41</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-115805081116095603</id><published>2006-09-12T01:46:00.000-07:00</published><updated>2006-09-12T01:46:51.250-07:00</updated><title type='text'>Pasar Seni ITB 2006. SERU!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/pasarseni2006_03.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/pasarseni2006_03.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;**Oleh Gustaff H. Iskandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali baru sekarang ini saya berkunjung ke Pasar Seni ITB sebagai pengunjung 100%! Rasanya aneh sekaligus mengharukan! Bagaimana tidak. Meskipun harus berdesak-desakan di bawah panas matahari, plus membawa satu ekor anjing labrador hitam kesayangan dan istri yang tengah hamil 7 bulan, toh ternyata saya masih bisa ketawa cekakakan sampe jungkir balik waktu ketemu teman-teman kuliah dulu. Apalagi waktu di intervensi oleh atraksi pertunjukan yoyo spektakuler oleh Oke Rosgana, alumni studio seni lukis 1995. Menurut saya dia ini satu-satunya master seni yoyo di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, Oke juga pernah mempertunjukan kebolehannya di Common Room pada acara pembukaan pameran perdana Sir Dandy Original.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu tahun 1995 saya sama sekali tidak mengalami Pasar Seni secara langsung. Setelah bekerja keras selama 3 bulan untuk mempersiapkan acara ini, tepat setelah acara pembukaan saya ketiduran di Aula Barat ITB. Teman-teman baru membangunkan saya ketika ada acara foto bareng panitia di depan gedung FSRD. Itu pun sudah sore menjelang magrib! Tepat pada saat Pasar Seni yang heboh itu selesai dilaksanakan! Buat saya ini peristiwa paling absurd dalam hidup saya. Setelah bekerja berbulan-bulan mempersiapkan acara, pada hari H saya malah ketiduran! Padahal waktu itu teh saya rencananya mau ngeceng anak SR angkatan bawah. Gagal total semuanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada acara Pasar Seni 1995, saya diberi tugas untuk mempersiapkan panggung utama, mulai dari desain sampai produksi. Selama 3 bulan saya mengerjakan proyek pesanan Jenggo (ketua Pasar Seni ITB 1995, DI - 1990) bersama dengan Yaya (DP - 1993) dan Danang (DP - 1993). Selain itu, saya harus  perform menjadi setan pas acara pembukaan Pasar Seni, barengan sama Tanto (SL - 1992) yang jadi genderuwo. Jadi kebayang kan capeknya. Sementara pada acara Pasar Seni 2000, saya tidak punya kesempatan untuk bersenang-senang karena pada saat itu saya harus membuat liputan khusus untuk majalah Trolley. Majalah keren yang sekarang udah bangkrut. Sial!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, makanya pas acara Pasar Seni 2006 cita-cita saya akhirnya tercapai. Gila-gilaan di pasar seni bareng teman-teman dari berbagai jurusan dan angkatan. Untungnya sebelum ngajeprut saya sempat mengantar pulang istri dan anjing kesayangan pulang ke rumah. Jadi pas balik lagi ke Pasar Seni saya sudah jadi bujangan tulen 100%. Bisa gogoakan, ngajeprut bari cacarakatakan. Apalagi waktu disuplai rempah-rempah khas Pasar Seni dan minuman oplosan ala preman Taman Sari. Semua serasa mimpi! Asa keur lalajo Rolling Stones di konser Woodstock tea geuning! Hahahahhaah! Nuhun kepada para pemasok energi keceriaan Pasar Seni 2006: Den Aldi, Motul, Ojel, Thoriq, Arian, Kemot, Jenggo, Ayus, Hendi &amp; istri, Conat, Dinar, Connie, Ita &amp; GB, Oke, Bening &amp; suami, Anton, Ucok Homicide, Tanto, Joko, Jon V, Puding, Goro, weeehh..geuning loba..pokonya DLL. lah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih, beberapa waktu sebelum pelaksanaan acara Pasar Seni ada suara macam-macam. Mulai dari kritik persiapan Pasar Seni yang kurang matang, KMSR yang kurang solid, hubungan komunikasi yang buruk antara dosen, mahasiswa dan alumni, konflik dengan pihak rektorat ITB, protes dari warga lingkungan kampus, dsb., dsb. Tapi pada hari pelaksanaan, semua rasanya lenyap begitu saja. Ribuan orang berdatangan, pada belanja, ketawa-ketawa, joged dan pada senang-senang; meskipun ada juga yang kecopetan sampai kehilangan mobil. Buat saya sih, itu semua jadi picaritaeun yang bakal terus jadi bahan omongan diantara kita semua. Bukan hanya barudak Seni Rupa, tapi mungkin semua orang se-Indonesia. Atau malah oleh orang-orang di luar negeri juga, karena kemarin saya juga liat ada banyak turis anu gareulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya saya baca artikel di harian Kompas dan Pikiran Rakyat. Kedua media ini menuliskan bahwa Pasar Seni berhasil menarik ribuan masyarakat untuk berduyun-duyun datang ke acara 4 tahunan yang sempat tertunda ini. ITB di intervensi selama satu hari oleh masyarakat umum! Kapan lagi coba! Selama satu hari masyarakat di beri kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan ITB yang selama ini dikenal angker dan berjarak dengan masyarakatnya. Buat saya, hal ini menunjukan bahwa Pasar Seni merupakan satu-satunya aset budaya berupa festival - yang memiliki skala acara yang sedemikin besar - yang saat ini dimiliki oleh ITB sebagai institusi pendidikan yang tersohor di Indonesia. Di Indonesia, barangkali cuma ITB yang punya acara seperti ini. Lewat Pasar Seni pula, ITB kemudian memiliki kesempatan untuk bertinteraksi dengan masyarakat, tanpa harus dibebani oleh berbagai macam prosedur yang ilmiah dan akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di harian Kompas, saya malah baca kalau para alumni dan dosen dari jurusan lain juga memanfaatkan momen Pasar Seni untuk reunian dan bersenang-senang sama keluarga. Buat saya sih memang di situ intinya. Orang datang ke Pasar Seni untuk senang-senang, reuni, ketawa-ketawa, sambil nonton karya seni dan belanja-belanja. Dan uniknya lagi, semua wahana tontonan, atraksi dan barang-barang yang di jual di Pasar Seni biasanya merupakan bahan-bahan yang sudah diseleksi. Jadi memang orang-orang datang untuk menikmati suasana yang sama sekali lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Pasar Seni 2006, saya pribadi merasa bahwa proses persiapan, pelaksanaan dan seleksi materi kurang dilakukan dengan teliti. Alasannya mungkin bisa banyak. Mulai dari pengalaman mahasiswa yang kurang, waktu persiapan yang kurang, kinerja organisasi yang kurang, sponsor yang kurang, dukungan dari ITB yang kurang, dsb.,dsb. Tapi kalo mau ngomongin yang kurang mah pasti banyak. Jadi sebetulnya nggak terlalu berguna juga kalau kita terlalu banyak membicarakan kekurangan. Buat saya sih yang kurang bisa diperbaiki nanti di Pasar Seni berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sekedar usul. Mungkin acara Pasar Seni frekwensinya bisa dibuat lebih dekat. Barangkali 2 tahun sekali cukup. Format bi-annual ini saya kira tepat kalau diaplikasikan buat Pasar Seni. Selain karena mahasiswa sekarang waktu lulusnya lebih cepat (4 tahun harus lulus loh!), format bi-annual juga bisa dimanfaatkan untuk memonitor perkembangan zaman yang sekarang bergerak sangat cepat. Barangkali untuk ke depan, pelaksanaan Pasar Seni juga bisa lebih terintegrasi dengan lingkungan ITB, sehingga teman-teman yang aktif di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi juga bisa unjuk kabisa di Pasar Seni. Karya-karya mereka juga keren-keren loh kalau dipamerkan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segitu dulu ya pandangan mata dari Pasar Seni ITB 2006. Sorry kalau kepanjangan. Siapa tau pandangan matanya bisa berguna buat teman-teman yang nggak bisa datang ke Pasar Seni. Ngomong-ngomong di Pasar Seni 2006 saya berhasil membeli karya repro Pak Priyanto loh. Karya repro digital gambar kepulauan Indonesia yang amburadul ini saya beli dengan harga Rp. 300 ribu! (Rp. 200 ribu dapet minjem dari Conat, anaknya Pak Pri!). Lumayan, kenang-kenangan Pasar Seni 2006. Ok ya sampai ketemu di Pasar Seni 2008!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Gede Utama, 12 September 2006&lt;br /&gt;** Penulis adalah seniman, bekerja untuk Bandung Center for New Media Arts/ Common Room Networks Foundation&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-115805081116095603?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/115805081116095603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=115805081116095603' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/115805081116095603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/115805081116095603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2006/09/pasar-seni-itb-2006-seru.html' title='Pasar Seni ITB 2006. SERU!'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-115805010027895767</id><published>2006-09-12T01:30:00.000-07:00</published><updated>2006-09-12T23:29:24.963-07:00</updated><title type='text'>Sarai Media Initiative: Oase di Belantara Ruang Urban New Delhi</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/Image_plan.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/Image_plan.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Gustaff H. Iskandar**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Sarai Media Initiative, sebuah organisasi yang aktif melakukan penelitian dan pengembangan praktik seni media baru yang terletak di kota New Delhi – India. Dalam bahasa setempat, Sarai memiliki banyak makna. Satu diantaranya adalah tempat terpencil yang terletak di tengah kota/jalan raya, dimana para pengelana biasa berkumpul untuk beristirahat di tengah-tengah perjalanan mereka. Sejak pertama didirikan pada tahun 2001, di tempat ini beragam praktik penelitian dan diskusi mengenai perkembangan teknologi media, pengembangan piranti lunak open source dan bermacam topik perbincangan mengenai persoalan ruang urban dikembangkan secara khusus dengan melibatkan orang-orang yang memiliki latar belakang pengetahuan yang beragam. Beberapa hasil penelitian dan pengembangan yang mereka lakukan secara teratur kemudian diterbitkan ke dalam kumpulan tulisan berjudul Sarai Reader, yang sampai saat ini telah terbit sebanyak 5 kali sejak pertama kali terbit pada tahun 2001. Hadir dengan format seri yang diklasifikasi melalui  tema yang spesifik, semua dokumen Sarai Reader juga dapat diakses secara online dan di download secara gratis melalui http://www.sarai.net/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada praktiknya, Sarai Media Initiative merupakan sebuah program khusus yang menjadi bagian dari Centre of the Study of Developing Societies (CSDS), sebuah lembaga penelitian yang juga bertempat di New Delhi. Organisasi ini didirikan oleh beberapa orang peneliti pada tahun 1963 sebagai wahana bagi pengembangan teori dan penelitian empirik mengenai proses transformasi sosial/politik, berikut dampaknya pada aktifitas sosial manusia. Salah satu kegiatan mereka antara lain misalnya adalah aktifitas Independent Fellowship Program, yang dikembangkan bersama dengan Sarai Media Initiative sejak tahun 2001. Terhitung sejak 5 tahun yang lalu, program ini setiap tahun mengundang para peneliti muda yang berasal dari beberapa wilayah di India, untuk melakukan penelitian mengenai topik yang mereka tawarkan sendiri. Dalam Independent Fellowship Program tahun ini misalkan, setidaknya ada sekitar 400 proposal penelitian yang kemudian menghasilkan 43 makalah penelitian dengan topik yang bermacam-macam, mulai dari penelitian mengenai identitas dan aspirasi kawula muda Tibet di New Delhi, bioskop di sekitar wilayah Maulana Shaukat Ali Road (Mumbai), sejarah aktifitas perdagangan maritim di India Barat, budaya penggunaan telepon umum di perkampungan, aktifitas kampanye politik mahasiswa, masalah kebebasan dunia cyber dalam konteks India, konflik pemanfaatan sarana air bersih di New Delhi, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dipresentasikan dalam bentuk essay, beberapa hasil penelitian yang ada juga ditampilkan dalam bentuk karya yang menggunakan medium yang beragam, mulai dari karya cetak digital, komik, novel grafis dan karya video dokumenter, sehingga masing-masing peserta dapat memaparkan aktifitas penelitian mereka dengan cara dan pendekatan yang mereka kuasai dengan baik. Hal ini tercermin dari presentasi aktifitas penelitian tahun ini, yang tampil secara simultan dalam sebuah acara pertemuan yang berlangsung selama 4 hari, mulai dari tanggal 24 s/d 27 Agustus 2006 yang lalu. Selain para peneliti yang merupakan peserta program, pertemuan ini juga dihadiri oleh para ahli dan peneliti yang juga memiliki bidang keilmuan yang beragam, mulai dari sosiolog, seniman, arsitek, ahli sejarah, dsb., sehingga memungkinkan terjadinya dialog yang kaya dan kritis. Selanjutnya, makalah penelitian juga diterbitkan melalui internet sehingga dapat diakses dan dimanfaatkan secara terbuka oleh masyarakat umum secara cuma-cuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun tidak semua makalah penelitian dapat memaparkan persoalan secara tajam, namun dalam sesi presentasi semua dibicarakan secara panjang lebar, lengkap dengan komentar dan kritik yang dilontarkan secara terbuka oleh para peserta diskusi. Harus diakui bahwa kegiatan semacam ini memiliki peran yang penting dalam memupuk kebiasaan untuk melakukan beragam aktifitas pengamatan dan penelitian mengenai persoalan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Suddhabrata Sengupta, salah seorang pengurus Sarai Media Initiative menyatakan bahwa selain sangat bermanfaat bagi pengembangan informasi mengenai pengetahuan lokal yang dapat diakses secara terbuka oleh masyarakat umum, aktifitas semacam ini juga sangat berguna untuk membangun jaringan peneliti muda di India. Hal ini diakui oleh beberapa peserta yang sebelumnya pernah ikut ambil bagian dalam kegiatan Independent Fellowship Program semisal Nilanjan Bhattacharya yang berasal dari Kalkuta, dan koordinator program Vivek Narayanan. Beberapa diantara para peneliti ini masih terus menjalin hubungan kerjasama dan aktif menyelenggarakan kegiatan penelitian dan pengembangan di tempat asal mereka sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan ini, saya juga berkesempatan untuk menyaksikan pameran tunggal dari Raqs Media Collective yang bertempat di Nature Morte Gallery – New Delhi. Anggota Raqs Media Collective (http://www.raqsmediacollective.net/) adalah juga para penggagas Sarai Media Initiative yang terdiri dari Monica Narula, Jeebesh Bagchi dan Shuddhabrata Sengupta. Didirikan sejak tahun 1992, mereka dikenal luas sebagai kelompok seniman yang banyak berkarya dengan menggunakan fotografi, film, instalasi dan media baru, selain juga aktif melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan teori media, kajian budaya urban dan praktik kerja multidisiplin bagi pengembangan piranti lunak open source dan berbagai kegiatan workshop maupun diskusi virtual melalui mailing list di http://mail.sarai.net/pipermail/reader-list/. Dalam pameran yang diberi tajuk "There Has Been a Change of Plan", Raqs Media Collective menampilkan kumpulan karya yang mereka buat selama kurun waktu 5 tahun terakhir, di mulai sejak tahun 2002 sampai dengan 2006. Pada kesempatan kali ini, mereka menyuguhkan beberapa karya pilihan yang merefleksikan pandangan mereka tentang berbagai persoalan ruang urban, perkembangan teknologi terkini dan situasi masyarakat kontemporer yang dipenuhi dengan konflik, rasa cemas, ketakutan dan alienasi. Ditampilkan dengan memanfaatkan beragam medium, mulai dari fotografi, video, instalasi dan benda sehari-hari; kesemuanya kemudian dikemas ke dalam labirin permainan tanda dan metafor yang sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali pameran ini adalah pameran tunggal mereka yang pertama di India setelah berkarir di bidang seni rupa selama kurang lebih 15 tahun. Seperti yang diungkap oleh Monica Narula dalam maling list Sarai, bahwa selama ini perkembangan seni kontemporer di India dapat dikatakan terlalu didominasi oleh pengertian seni visual yang sempit, sehingga membatasi seniman dan publik di India untuk berkarya dan menikmati karya seni rupa di luar seni lukis dan seni patung. Meskipun situasinya kini sudah berubah, namun hal ini setidaknya juga berpengaruh terhadap proses distribusi dan apresiasi karya-karya Raqs Media Collective yang selama 15 tahun ini lebih banyak tampil di sirkuit seni internasional semacam Documenta 11 (Jerman, 2002), Venice Biennale (Venice, 2003), Liverpool Biennale (Inggris, 2004), dst. Tentunya hal ini juga terjadi berkat artikulasi karya yang konseptual dari Raqs Media Collective melalui aktifitas mereka; yang juga dikembangkan melalui berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama beraktifitas bersama di Sarai Media Initiative dan CSDS.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari catatan di atas, barangkali kita dapat melihat bagaimana saat ini aktifitas seni kontemporer di India tidak lagi melulu berkutat pada kegiatan eksplorasi di bidang artistik belaka. Hal yang sama juga setidaknya tercermin melalui berbagai aktifitas seni yang dilakukan oleh beberapa seniman di Indonesia selama kurun waktu beberapa tahun terakhir, seperti misalnya melalui beberapa kegiatan yang dilakukan oleh kelompok ruangrupa di Jakarta dan Yayasan Seni Cemeti di Yogyakarta. Untuk beberapa hal, praktik penelitian dan pengembangan dalam aktifitas seni kontemporer saat ini tampaknya sudah lazim diterapkan sebagai bagian dari praktik dan strategi, sehingga memungkinkan terjadinya sebentuk interaksi yang intensif antara seniman dan lingkungan tempat mereka bekerja. Dalam hal ini, seni sebagai medium yang senantiasa mengungkap kondisi realitas kehidupan manusia rupa-rupanya juga dapat bekerja sebagai alat untuk menggali berbagai informasi dan pengetahuan yang tersembunyi diantara belantara realitas yang serba kacau dan tumpang tindih. Kembali merujuk kepada aktifitas yang dikembangkan oleh Sarai Media Initiative, tampaknya kehadiran mereka merupakan semacam oase kreatifitas yang memberikan nyawa pada kehidupan kota di New Delhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New Delhi, 31 Agustus 2006&lt;br /&gt;**penulis adalah seniman, bekerja untuk Bandung Center for New Media Arts/Common Room Networks Foundation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan foto:&lt;br /&gt;Judul karya: There Has Been A Change of Plan&lt;br /&gt;Medium/tahun: Photo Print, 54 inches x 38 inches, 2006&lt;br /&gt;Informasi detail: Dipamerkan pertama kali pada pameran There Has Been A Change of Plan, Nature Morte Gallery – New Delhi, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa link yang memuat informasi mengenai proyek-proyek yang dikembangkan oleh Sarai Media Initiative:&lt;br /&gt;http://www.sarai.net/cybermohalla/cybermohalla.htm&lt;br /&gt;http://www.sarai.net/journal/02PDF/07cybermohalla/cybermohalla.pdf&lt;br /&gt;http://www.sarai.net/journal/03pdf/184_196_cmdiaries.pdf&lt;br /&gt;http://www.sarai.net/journal/04_pdf/48cm_logs.pdf&lt;br /&gt;http://www.sarai.net/journal/05_pdf/06/02_cm.pdf&lt;br /&gt;http://sarai.var.cc&lt;br /&gt;http://www.rangeendeewarein.blogspot.com/&lt;br /&gt;http://nangla.freeflux.net&lt;br /&gt;http://blogger.xs4all.nl/scratchbookproject&lt;br /&gt;https://mail.sarai.net/pipermail/reader-list/2004-December/004651.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-115805010027895767?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/115805010027895767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=115805010027895767' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/115805010027895767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/115805010027895767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2006/09/sarai-media-initiative-oase-di_12.html' title='Sarai Media Initiative: Oase di Belantara Ruang Urban New Delhi'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-114651364699595790</id><published>2006-05-01T12:46:00.000-07:00</published><updated>2006-05-08T23:02:31.203-07:00</updated><title type='text'>Selayang Pandang Seni Rupa Kontemporer Indonesia: Di Tengah Arus Turbulen</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/pinkswing_park.6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/pinkswing_park.6.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Gustaff H. Iskandar**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan email dari seorang teman. Sebagai gambaran, teman saya ini ceritanya adalah seorang mantan mahasiswi sekolah bisnis yang kebetulan tahu banyak mengenai perkembangan seni rupa terkini di Indonesia. Setelah mendapatkan gelar master ekonomi di sebuah universitas terkemuka di kota London, dia pulang ke Bandung pada tahun 2003 dan langsung dipercaya menjadi analis ekonomi di sebuah bank asing di Jakarta. Katakanlah namanya Vivian, biasa dipanggil Teh Vivi. Meskipun posturnya tidak terlalu tinggi, dia memiliki gerak-gerik yang lincah dan pembawaan yang aktif. Tidak heran kalau banyak orang yang betah ngobrol berlama-lama membicarakan berbagai topik yang diminatinya. Kalau saya tidak salah, dulu dia juga dikenal sebagai pemain bass dari D.A.N.T.E., sebuah band dub elektronik yang lumayan ngetop di kota Bandung. Untuk saya, hal inilah yang tampaknya membuat dia begitu dikenal di lingkungan kota kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya ini cerita kalau akhir-akhir ini dia sering keluar masuk galeri dan museum agar bisa terus mengikuti perkembangan seni rupa Indonesia. Selain itu, dia juga rajin datang ke pembukaan pameran, mulai dari pameran kecil hingga pameran sekelas Biennale ataupun festival. Kadang dia juga suka menghabiskan waktu untuk nongkrong di studio beberapa seniman yang dia kenal hanya untuk ngobrol-ngobrol dan menghabiskan waktu luang dengan mengamati karya seni yang ada di situ. Dalam emailnya, dia juga bercerita sedang berada di Istanbul. Disana dia sempat melihat karya kelompok ruangrupa yang tengah berpartisipasi dalam acara pameran seni rupa dua tahunan, Istanbul Biennale 2005. Nama ruangrupa memang cukup banyak dikenal selama 6 tahun belakangan ini. Selain aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan seni rupa di Jakarta, kelompok ini juga rajin diundang ke beberapa event seni rupa di luar negeri. Ada banyak proyek mereka yang menyoroti berbagai persoalan ruang urban di kota Jakarta. Diantaranya sebutlah workshop video bertema “urban space” yang dipamerkan pada acara OK Video Festival 2003 yang diselenggarakan di Galeri Nasional Jakarta. Workshop ini antara lain diikuti oleh Wahyu Sulasmoro, R.E. Hartanto, Oliver Zwink, Henry Foundation, Irwan Ahmett a.k.a Iwang, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu sekali saya pernah berkunjung ke rumah teman saya ini. Untuk ukuran seorang mantan mahasiswi sekolah bisnis, kegemarannya mengamati perkembangan seni rupa di tanah air bagi saya sudah sampai pada level “gila-gilaan”. Bagaimana tidak, di ruang belajar rumahnya saya menemukan bertumpuk buku kecil berisi catatan berbagai karya seni yang pernah ia lihat, baik secara langsung maupun dari buku ataupun internet. Selain itu, pada jejeran rak buku di salah satu sudut ruangan, saya menemukan sederetan folder yang berisi kliping koran, biografi seniman, potongan artikel dari majalah, buku seni rupa, katalog, dan berbagai bentuk terbitan yang berisi berbagai informasi mengenai seniman, karya seni dan pameran-pameran seni yang melibatkan seniman Indonesia; baik yang diselenggarakan di dalam negeri maupun di manca negara. Semua tersusun rapi dan diberi kode khusus yang dibagi kedalam beberapa periode dan istilah yang spesifik: Era Kolonial, Mooi Indie, Era Revolusi Fisik, LEKRA, Era Revolusi Sosial 1965, Era Orde Baru, Abstrak Bandung, Peristiwa Desember Hitam, Gerakan Seni Rupa Baru, Paska GSRB, Sumber Waras, Perengkel Jahe, Surealisme Yogya, dsb., dsb. Dipojok rak yang agak lenggang, saya mendapati folder yang paling baru bertuliskan “Paska 1998”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sepintas, tampaknya istilah-istilah ini tidak terlalu memiliki arti yang kongkrit. Namun setelah ditelisik lebih jauh, rupanya istilah-istilah ini punya persinggungan yang erat dengan berbagai situasi sosial, politik, ekonomi, sampai pada persoalan-persoalan kebudayaan secara umum di Indonesia. Mulai dari zaman kolonial sampai sekarang. Bagi teman saya ini, aktifitas kesenian merupakan sebentuk interaksi intensif yang mempertautkan seniman dengan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk memahami karya seni ada baiknya kita juga berusaha untuk memahami konteks dimana dan bagaimana karya seni itu diciptakan melalui sudut pandang yang bermacam-macam. Menurutnya dengan cara seperti ini kita tidak hanya bisa memahami karya seni secara utuh, tetapi juga dapat melihat berbagai persoalan yang ada di belakangnya. Tidak heran kadang teman saya ini memanfaatkan karya seni sebagai acuan untuk melakukan berbagai analisa perkembangan ekonomi di Indonesia. Baginya karya seni adalah instrumen analisa ekonomi yang paling mutakhir saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberi contoh peristiwa boom seni lukis di New York pada tahun 1980-an yang antara lain juga disebabkan oleh peristiwa kebangkitan ekonomi Amerika yang dihantui resesi sampai akhir 1970-an. Setelah Amerika berhasil keluar dari resesi melalui berbagai kebijakan politik-ekonomi Ronald Reagan, dunia usaha mendapatkan energi optimisme baru yang kemudian berimbas pada bidang kebudayaan secara luas. Di bidang seni rupa, terjadi berbagai transaksi karya seni dengan nilai finansial yang nyaris absurd. Karya Julian Schanbel yang berjudul Notre Dame terjual dengan harga US$. 93.500,- dalam sebuah pelelangan pada tahun 1983. Angka ini didahului oleh penjualan spektakuler dari karya Willem de Kooning (Police Gazette, 1955) yang terjual dengan harga US$. 180.000,-; dan karya Jasper John (Double White Map, 1965) yang terjual dengan harga US$. 240.000,-. Keduanya dilepas pada acara lelang “America’s Pop Collector: Robert C. Schull – Contemporary Art at Auction” yang diselenggarakan pada tanggal 18 Oktober 1973. Pada tahun 1980 karya Jasper John yang berjudul Three Flags (1958) ditaksir seharga US$ 1.000.000,- oleh Whitney Museum yang berbasis di kota New York. Ada gosip tidak resmi yang menyatakan kalau berbagai transaksi karya seni di era ini merupakan konspirasi yang sengaja dirancang oleh badan intelejen Amerika yang bekerjasama dengan berbagai institusi penyandang dana di Amerika semisal The Rockefeller Foundation. Tujuannya cuma satu: memindahkan pusat perkembangan seni rupa modern dari Paris (Eropa) ke New York (Amerika). Konon melalui cara seperti ini pemerintah Amerika berhasil menarik dana investasi segar yang digunakan untuk membenahi kondisi ekonomi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang peristiwa di atas mengingatkan saya pada era boom seni lukis yang melanda perkembangan seni rupa di Indonesia pada akhir era 1980-an. Pada saat itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditopang oleh industri minyak dan properti memang tengah berkembang pesat. Dalam catatan yang dibuat oleh Sanento Yuliman (Boom! Ke mana Seni Lukis Kita?, 1990), stabilitas politik dan ekonomi yang dibangun oleh pemerintahan Orde Baru membawa berkah tersendiri bagi para pelukis di masa itu. Ada banyak orang kaya baru (OKB) yang membeli karya seni secara kalap dengan harga yang tidak masuk akal. Namun ada beda yang sangat mencolok. Apabila boom seni lukis di New York mampu melahirkan banyak institusi seni yang menyokong perkembangan seni rupa secara ajeg semisal Museum of Modern Art dan The Metropolitan Museum of Art, di Indonesia yang terjadi malah kebalikannya. Setelah masa boom seni lukis meredup, kebanyakan institusi seni seperti pusat-pusat kebudayaan, galeri dan museum (terutama yang disokong oleh pemerintah) ikut-ikutan bangkrut dan melarat. Dari sedikit yang bertahan adalah beberapa galeri pribadi dan institusi seni yang didukung oleh dana dari luar negeri maupun pusat-pusat kebudayaan asing. Pertumbuhan ekonomi di era Orde Baru yang ditopang oleh hutang luar negeri ternyata kandas oleh korupsi, dan hal ini menyebabkan perkembangan seni rupa menjadi kembang-kempis. Mati segan, hidup tak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah era boom seni lukis, perkembangan seni rupa di Indonesia tidak mati sepenuhnya. Ada beberapa institusi pendidikan, seniman, akademisi dan para aktivis kebudayaan yang berani mengambil inisiatif di masa krisis. Sebutlah Rumah Seni Cemeti &amp; Kedai Kebun di Yogyakarta; Selasar Sunaryo Art Space, Galeri Soemardja dan Jendela Ide di Bandung; Galeri Lontar dan Galeri Cemara di Jakarta, dsb. Melalui tempat-tempat semacam ini – meskipun sayup-sayup – aktifitas seni rupa kontemporer di Indonesia masih terus berlanjut. Belum lagi berbagai kelompok seniman muda yang aktifitasnya meningkat selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Kemunculan kelompok-kelompok ini sepertinya juga merupakan gejala yang tidak terhindarkan. Aktifitas yang dilakukan oleh beberapa kelompok seniman muda semisal Daging Tumbuh, Mess 56, ruangrupa, dsb., setidaknya juga menunjukan pola perubahan yang penting. Harap diingat, kegiatan kelompok seniman pada era Orde Baru selalu ditekan dan dicurigai. Hanya seniman yang tidak terlibat di dalam kegiatan politik praktis yang bisa beraktifitas dengan aman. Alasannya tidak lain karena di era Orde Lama ada banyak kelompok seniman dan organisasi kesenian yang dijadikan basis aktifitas partai politik berhaluan komunis, ideologi yang dilarang secara resmi oleh pemerintah Orde Baru karena dituduh sebagai biang kerok kekacauan sosial politik di tahun 1965. Terlepas dari masalah ideologi, saat ini bagi sebagian seniman muda beraktifitas dalam kelompok bisa jadi merupakan salah satu strategi untuk mengantisipasi situasi ekonomi yang tidak menentu. Selain dapat menunjang kegiatan mereka, rupa-rupanya keberadaan berbagai kelompok semacam ini juga menjadi wadah yang dapat mengakomodasi berbagai kecenderungan artistik baru yang sulit diterima oleh berbagai institusi seni yang lebih mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain beberapa kecenderungan di atas, berbagai event seni rupa skala besar sampai saat ini juga masih bisa diselengarakan meskipun dengan jalan yang tertatih-tatih. Sebut saja beberapa event seperti Yogya Biennale, Bali Biennale, CP Open Biennale, ataupun OK Video Festival. Bagi teman saya, hal ini juga bisa dilihat sebagai tanda yang cukup baik. “Itu tandanya ekonomi di Indonesia masih menjanjikan!”, ujarnya suatu ketika. Lebih jauh lagi, menurutnya secara umum Indonesia saat ini tengah diterpa gejala turbulen yang dipicu oleh transisi politik dan proses demokratisasi yang dimulai sejak tahun 1998. Dampaknya baru terasa sekarang ini. Perubahan yang serba cepat dan situasi yang serba tidak menentu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses turbulen. Jangan heran kalau CP Open Biennale 2005 yang memamerkan karya Agus Suwage dan Davy Linggar (Pinkswing Park, instalasi, 2005) memicu kontroversi dan mendorong organisasi massa seperti FPI mengambil jalan ekstra-konstitusi dengan mengancam organisasi penyelenggara biennale.  Dalam situasi semacam ini berbagai bentuk gesekan dan tumbukan nilai merupakan sebuah peristiwa yang tidak terhindarkan. Hal ini menuntut para seniman untuk siap berakrobat supaya bisa tetap bertahan dan berkarya secara konsisten sehingga dapat mendorong terjadinya perubahan zaman. Oleh karena itu, menurut teman saya sebetulnya periode paska 1998 adalah periode yang sangat menarik dalam perkembangan sejarah seni rupa di Indonesia. “Namanya juga zaman peralihan. Tidak ada yang pasti dalam situasi transisi semacam ini. Situasi turbulen adalah sebuah situasi yang serba mengambang. Di dalam situasi seperti ini berbagai bentuk perubahan senantiasa bergerak dengan cepat. Makanya kalau ada tabrakan itu wajar. Tolong kamu catat, tidak ada yang stabil di dalam arus turbulen. Apapun bisa terjadi. Oleh karena itu menurut saya ini merupakan situasi yang sangat menarik”, tulisnya sebagai penutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Gede Utama, 02 Mei 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**penulis adalah seniman, bekerja untuk Bandung Center for New Media Arts/ Common Room Networks Foundation&lt;br /&gt;Kyai Gede Utama, 02 Mei 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;keterangan foto:&lt;br /&gt;Pinkswing Park, 2005&lt;br /&gt;Agus Suwage &amp; Davy Linggar&lt;br /&gt;Installation (becak modification, digital print, black pebbles)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-114651364699595790?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/114651364699595790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=114651364699595790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/114651364699595790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/114651364699595790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2006/05/selayang-pandang-seni-rupa-kontemporer.html' title='Selayang Pandang Seni Rupa Kontemporer Indonesia: Di Tengah Arus Turbulen'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-114016993135099639</id><published>2006-02-17T01:47:00.000-08:00</published><updated>2006-02-17T01:55:14.953-08:00</updated><title type='text'>Fuck You! We're From Bandung! - MK III (1)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Oleh: Gustaff H. Iskandar**&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Judul tulisan di atas sengaja saya ambil dari bagian belakang t-shirt teman saya. Sekedar informasi, teks ini sebetulnya berasal dari sebuah t-shirt yang merupakan merchandise resmi dari Puppen, sebuah band hardcore lokal legendaris yang membubarkan diri pada tahun 2001.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-family:Arial;" &gt;Sebelum Puppen, sebetulnya sudah banyak orang yang menggunakan teks yang bernada ofensif semacam ini. Diantaranya sebutlah, "Fuck You! We’re From Texas!" atau "Fuck You! We’re Motley Crue!", keduanya berasal dari Amerika. Bagaimana teks ini bisa sampai di kota Bandung melalui sebuah band underground lokal, bisa jadi merupakan bahan pembicaraan yang juga merepresentasikan kondisi keseharian kita saat ini. Proses mimikri dan saturisasi teks dan informasi saat ini bisa jadi merupakan hal yang lumrah ditengah-tengah gencarnya proses globalisasi (saya lebih senang menyebut ini sebagai proses kreolisasi), termasuk juga percepatan pola sirkulasi data &amp; informasi yang sekarang ini memang dimungkinkan melalui pesatnya perkembangan di bidang teknologi informasi. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Di Kota Bandung – bagi sebagian masyarakatnya – keberadaan berbagai t-shirt seperti yang diperbincangkan di atas bisa jadi merupakan satu hal yang lazim. Demikian juga dengan keberadaan geng motor tua, sepeda bmx, penggemar musik hip-hop, musik elektronik, break dance, hardcore, grindcore, sampai dengan komunitas penggemar musik punk yang tersebar di beberapa tempat di sekitar pojokan kota. Dengan penampilan yang spesifik, beberapa kelompok ini menyebar di sekitar kampus-kampus, pojok-pojok jalan, diskotik, bar, daerah pertokoan, kamar kost, rumah kontrakan, shooping mall, dan lain sebagainya. Di malam Minggu, beberapa komunitas ini biasanya terlihat di sekitar Jalan Dago, Gasibu, BIP, Cihampelas, sampai Jalan Braga. Di Bandung, kebanyakan orang tampaknya memang masih punya banyak waktu luang untuk memikirkan beberapa hal yang mendetail dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa hal detail yang kemudian bermuara pada beragam kecendrungan akan gaya hidup, perilaku, dan berbagai aliran pemikiran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Dadan Ketu, sebutlah demikian. Terlahir di Kota Bandung pada tahun 1973. Pemilik nama ini bukanlah figur yang asing lagi bagi mereka yang akrab dengan komunitas underground Kota Bandung di era pertengahan '90-an. Bersama 8 orang temannya, pada sekitar tahun '96 ia berinisiatif untuk membentuk sebuah kolektif yang kini dikenal dengan nama Riotic. Melalui ketertarikan akan satu model ideologi yang sama, komunitas ini kemudian mulai memproduksi musik rilisan mereka sendiri, yang kemudian berkembang menjadi sebuah toko kecil yang menjual segala macam pernak-pernik dari mulai kaset, merchandise band, t-shirt dan lain sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Lain lagi dengan Dede, yang bersama keempat temannya mendirikan sebuah distro&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Arial;" &gt;(2)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; yang bernama Anonim pada tahun 1999. Terutama karena ketertarikan pada musik dan film, kelompok ini kemudian mulai menjual t-shirt yang dipesan secara online melalui internet. Kini selain menjual barang-barang import, mereka juga menjual kaset-kaset underground dan produk-produk dari label clothing lokal, yang konon kabarnya mencapai sekitar 100 label clothing yang muncul bergantian seperti cendawan di musim hujan. Menurutnya, penjualan produk lokal meningkat jumlahnya setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1996, yang menyebabkan harga barang impor meningkat dan semakin sulit didapat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Riotic dan Anonim, dua nama ini adalah sedikit dari deretan nama-nama seperti, Harder, Riotic, Monik Clothing, 347 Boardrider &amp; Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, dan lain sebagainya. Sejak pertengahan '90-an, di Kota Bandung memang bermunculan beberapa komunitas yang menjadi produsen sekaligus pelanggan tetap beberapa toko kecil - sebutlah distro - yang menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan toko, shooping mall, dan factory outlet yang kini juga tengah menjamur di Kota Bandung. Berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri, kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dsb. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Reverse: Markas Kecil di Sukasenang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;Adalah Reverse, sebuah studio musik di daerah Sukasenang yang kemudian dapat dikatakan sebagai cikal bakal yang penting bagi perkembangan komunitas anak muda di Kota Bandung pada awal era '90-an. Di awal kemunculannya pada sekitar tahun '94, semula Richard, Helvi, dan Dxxxt (3 orang pendiri pertama dari Reverse), hanya memasarkan produk-produk spesifik yang terutama diminati oleh komunitas penggemar musik rock dan skateboard. Dapat dikatakan, komunitas ini kemudian merupakan simpul pertama bagi perkembangan komunitas ataupun kelompok subkultur anak muda pada saat itu. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian menjadi sebuah distro yang mulai menjual CD, kaset, poster, artwork, asesoris, termasuk barang-barang impor maupun barang buatan lokal lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Kemudian bermunculan sederet komunitas baru yang lebih spesifik lagi. Dari yang semula hanya didatangi oleh penggemar musik rock dan komunitas skateboard, Reverse mulai didatangi oleh beberapa kelompok yang berasal dari scene yang lain. Dari yang meminati musik pop, metal, punk, hardcore, sampai pada kelompok skater, bmx, surf dan lain sebagainya. Belakangan, nama Reverse bermutasi menjadi Reverse Clothing Company, yang sekarang ini dikelola oleh Dxxxt. Menurut Richard, selain karena musik rock dan skateboard, saat itu kemunculan beragam komunitas semacam ini juga didorong oleh keberadaan beberapa film seperti The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian Trenchard-Smith/1983),Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), dan film-film sejenis yang bercerita mengenai berbagai macam komunitas anak muda di Barat (Eropa Barat &amp;amp; Amerika).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Arial;" &gt;(3)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;"&lt;i&gt;Dulu gua kalo mau nyari posternya Frank Zappa nggak mungkin dapet di tempat lain, pasti gua nyarinya ke Reverse!&lt;/i&gt;", ujar Edi Khemod yang merupakan drummer band cadas bernama Seringai, sekaligus seorang penulis, produser rumah produksi Cerahati dan juga salah seorang anggota dari Biosampler; sebuah kelompok seniman multimedia yang sering muncul dalam aktifitas artistik di club scene kota Bandung dan Jakarta. Kebutuhan yang spesifik semacam inilah yang kemudian tertularkan pada beberapa komunitas dan distro-distro pada generasi sesudahnya. Kembali menurut Richard, menurutnya mereka yang datang ke Reverse itu kebanyakan mencari barang yang tidak terdapat di toko, shooping mall, atau departemen store. Hal ini juga diakui oleh Dadan dan Dede. Menurut mereka rata-rata yang datang ke distro itu orang-orang yang punya kebutuhan spesifik yang berbeda dengan kebutuhan orang kebanyakan. "&lt;i&gt;Karena itu mereka mencari sesuatu yang lain, yang sulit ditemukan di wilayah-wilayah yang lebih mapan&lt;/i&gt;", ujar Richard dalam sebuah wawancara. Untuk saya sendiri hal semacam ini tentu saja dapat dikatakan wajar. Kebanyakan anak muda memang punya tabiat untuk selalu mencari pengalaman yang baru dan berbeda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Tampaknya dari kondisi yang spesifik semacam inilah, dinamika perkembangan industri musik, termasuk perkembangan fashion anak muda di Bandung selalu menemui banyak pembaharuan. Dari mulai jaman celana jeans di Jalan Cihampelas, tas ransel Jayagiri, jaman kaos oblong C-59, clothing lokal, band-band underground, distro, dan seterusnya sampai sekarang. "&lt;i&gt;Perjumpaan yang terus menerus dengan hal/orang/barang yang sama, kadang-kadang menimbulkan perasaan jenuh/bosan/muak; bila tak tertahankan lagi, orang ingin keluar/melepaskan diri dari situasi itu: ingin tampil beda&lt;/i&gt;", urai Yuswadi Saliya, seorang arsitek yang tinggal di Bandung ketika membalas pertanyaan dalam email saya untuk kasus ini. Saya pikir demikianlah adanya, Kota Bandung memang memiliki segudang rutin yang memaksa setiap warganya untuk terus bergerak mencari sesuatu yang baru dan berbeda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Kini beragam komunitas anak muda di kota Bandung terus bermunculan. Rumah di pojokan jalan Sukasenang saat ini tidak lagi menjadi markas Reverse, tetapi telah menjadi tempat domisili Cerahati/Biosampler, sebuah komunitas kreatif yang karyanya telah banyak dipamerkan ke beberapa negara seperti Helsinki (ISEA - 2004), Singapura (Insomnia48 – 2004), London (ICA – 2005), Berlin (HKW – 2005) dan New Zealand (St. Paul Gallery – 2005) . Sementara itu, berbagai komunitas kreatif yang didominasi oleh anak-anak muda saat ini menyebar hampir seluruh pelosok kota, mulai di bilangan Jalan Setiabudi (Monik/Ffwd Records), Citarum (347/EAT – Room No. 1), Moch. Ramdan (IF), Balai Kota (Barudak Balkot), Jalan Pasteur (Harder), Sultan Agung (Omuniuum), Jalan Sunda (BTW Space), Kyai Gede Utama (Common Room/ tobucil/Bandung Center for New Media Arts dan Jendela Ide), daerah Ciwaruga/Cihanjuang (Buqiet Skate Park), sampai ke daerah Ujung Berung (Ujung Berung Rebel/Homeless Crew), dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Biografi Kota: Dari Era Kolonial, Jaman Aktuil, Geng Motor, sampai Barudak Punk &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;Sejak dinobatkan sebagai kota terbuka oleh Gubernur Jendral J.B. van Heutz pada tanggal 21 Februari 1906, Kota Bandung sejak dulu memang telah menjadi tempat bagi tujuan wisata, perdagangan dan pendidikan. Hal ini yang sedikit banyak membawa pengaruh bagi perkembangan Kota Bandung pada era sesudahnya. Pernah dahulu Kota Bandung disebut sebagai 'Parijs van Java', dan diusulkan untuk menjadi pusat bagi koloni orang Eropa yang singgah di daerah katulistiwa oleh seorang ilmuwan yang bernama Ir. R. van Hoevell. Sebagai salah satu kota besar yang berkembang sejak era kolonial Belanda, wajar apabila saat ini Kota Bandung juga dikenal sebagai kota yang menerima berbagai macam pengaruh dari bangsa-bangsa seluruh dunia, dan tidak terisolasi dari berbagai perkembangan yang ada. Di era kolonial Belanda, berbagai infrastruktur kota; terutama sarana transportasi, perdagangan, dan pendidikan adalah pintu gerbang utama yang memungkinkan berbagai informasi dan pengetahuan masuk ke kota ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Salah satu pengaruh kuat yang bisa terlihat saat ini misalnya di bidang arsitektur. Sampai sekarang kita masih dapat menemui berbagai macam peninggalan berupa gedung tempat pesta dan hiburan dengan corak art deco, yang merupakan peninggalan orang-orang Eropa. Yang paling menonjol mungkin adalah Gedung Concordia (sekarang Gedung Merdeka) dan beberapa gedung di sekitar jalan Braga dan Asia Afrika. Dalam beberapa catatan yang ada, pada masa kolonial di tempat-tempat ini juga sering diadakan berbagai macam pesta dan pertunjukan yang ditujukan untuk menghibur warga Eropa yang saat itu tinggal di Bandung. Almarhum Haryoto Kunto bahkan sempat mencatat kalau pernah dulu seorang Charlie Chaplin mampir ke Bandung dan menginap di Hotel Savoy Homan yang terletak di Jalan Asia Afrika. Di masa itu, mayoritas penduduk Kota Bandung adalah orang-orang Eropa, yang pada perkembangan selanjutnya membawa pengaruh yang penting bagi pertumbuhan budaya perkotaan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hampir di seluruh di wilayah Asia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Setelah era kolonial, pembangunan berbagai sarana transportasi, komunikasi, dan perkembangan di bidang teknologi informasi semakin menempatkan Kota Bandung sebagai bagian dari jaringan dunia global. Seiring dengan gencarnya perputaran arus informasi, muncul berbagai bentuk kesadaran individu, keterbukaan, kebebasan berekspresi dan toleransi, diantara kelompok masyarakat, termasuk diantara beberapa komunitas anak muda di Bandung. Semangat untuk menyikapi perbedaan dengan cara yang khas (nyeleneh/ kumaha aing!), pada beberapa kelompok anak muda Bandung tampaknya juga ikut melahirkan pola resistensi, yang dapat kita kenali sebagai sebuah model budaya tandingan (&lt;i&gt;counter-culture&lt;/i&gt;). Kebiasaan untuk membentuk budaya tandingan untuk menyikapi budaya yang dianggap lebih mapan setidaknya mendorong pertumbuhan budaya urban di kalangan masyarakat kota Bandung menjadi lebih dinamis. Hal ini tampaknya juga menunjukan tabiat masyarakat kota Bandung yang memang senantiasa haus akan perubahan dan perbedaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;Sebagian kalangan di Indonesia tentu kenal dengan angkatan majalah Aktuil yang muncul di Bandung pada tahun '70-an, dengan tiga dedengkotnya, yaitu Sonny Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado. Pada tahun 1973-1974 majalah ini sempat berhasil menembus tiras sekitar 126 ribu eksemplar, dan menjadi trend setter anak muda yang penting pada masa itu, sampai kemudian berhasil mendatangkan kelompok musik Deep Purple pada tahun 1975.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Arial;" &gt;(4)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Dalam sebuah catatan, Remy Sylado menyatakan bahwa majalah Aktuil memang menyuarakan semangat budaya tandingan terhadap struktur budaya yang mapan pada masa itu. Selanjutnya, mungkin ada juga yang tahu mengenai keberadaan geng motor yang populer di kota ini sejak tahun '70 sampai dengan pertengahan '80-an, yang didominasi oleh para penggemar motor tua semacam Harley Davidson, Ariel, BMW dan lain sebagainya. Pada masa itu, setidaknya ada 2 kelompok motor tua yang disegani, seperti misalnya Black Angel dan The Motor. Kelompok ini pulalah yang belakangan mendorong lahirnya kelompok penggemar motor tua yang masih eksis sampai sekarang, yaitu Biker's Brotherhood.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Arial;" &gt;(5)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Di era ’80-an, selain komunitas motor tua, sejak dibangunnya sebuah skatepark kecil di Taman Lalu Lintas (Taman Ade Irma Suryani) pada pertengahan '80-an, muncul komunitas skateboard yang kemudian menjadi cikal bakal bagi kelompok bmx, punk, dan hardcore yang mulai populer di tahun '90-an. Melalui komunitas ini pulalah mulai populer wacana Do It Youself (DIY), yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mementingkan peran inisiatif individu dalam membangun gerakan budaya tandingan. Melalui wacana DIY, selain perkembangan distro, clothing, record label lokal, juga muncul sederet nama yang kemudian menjadi catatan yang penting bagi kota ini, yaitu kelompok-kelompok band seperti Puppen (bubar pada tahun 2001), Pas, Koil, Jeruji, Full of Hate, Forgotten, Burger Kill, Jasad dan masih banyak lagi. Band-band inilah yang sempat meramaikan acara-acara musik underground di tempat seperti GOR Saparua, dimana biasanya banyak komunitas anak muda yang memanfaatkan acara ini untuk berkumpul dengan dandanan dan sikap mental (&lt;i&gt;attitude&lt;/i&gt;) yang sangat spesifik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Sebuah fenomena baru kemudian merebak di penghujung era ’90-an. Setelah pertunjukan musik underground semakin jarang diadakan karena semakin dipersulitnya masalah perizinan dan kendala dalam soal dana, dalam beberapa waktu terakhir pada hampir setiap malam Minggu kita bisa menemui sebagian warga Kota Bandung berparade di jalan-jalan utama semisal Jalan Dago di wilayah utara kota. Berbagai komunitas berkumpul sambil berpesta pora, meneruskan kebiasaan yang sebetulnya sudah menunjukan gelagatnya sejak awal tahun '90-an. Lepas dari era ’90-an, saat ini beberapa acara underground dapat dikatakan kembali marak selama kurun waktu beberapa tahun terakhir. Beberapa acara seperti Contamination, Flower Pop, Bandung Berisik, One Blood, dll, sempat menyita perhatian publik di kota kembang. Acara-acara semacam ini sekarang kebanyakan disponsori oleh perusahaan clothing lokal yang kini mulai banyak yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, selain juga disponsori oleh perusahaan – perusahaan yang lebih mapan. Selain itu, beberapa acara lain sering dilakukan di beberapa klub lokal seperti misalnya Classic Rock di jalan Trunojoyo dan TRL Bar di daerah jalan Braga. Di bar ini, selain pertunjukan musik rock, juga sering diselenggarakan acara bagi pengemar musik pop, jazz, elektronik, sampai musik yang bernuansa eksperimental.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ekspansi di Ruang Publik: Dari Jalanan Sampai ke Pasar Fashion Daur Ulang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan rontoknya rezim Soeharto, perilaku warga Kota Bandung pun memperlihatkan polanya yang baru. Setidaknya sejak sekitar tahun '96, orang-orang mulai terbiasa menyalurkan aspirasi mereka sebebas-bebasnya di ruang publik. Hal ini ditunjukan melalui persentuhan yang intens di ruang publik semisal jalan raya, gedung-gedung, pertokoan, dll. Di era ini, berbagai kelompok dari beragam komunitas; dari mulai mahasiswa, penggemar otomotif, pelajar SMU, pengamen, pengangguran, kelompok hobi, pedagang dan lain sebagainya mulai tampak sering muncul di jalan-jalan utama Kota Bandung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Di jalanan, setiap warga kota kemudian bertemu untuk saling menonton dan mempertontonkan dirinya. Berbagai macam bentuk perayaan di ruang-ruang publik ini muncul dengan wajah yang datang silih berganti. Dari mulai acara-acara semacam konser musik, atau beberapa acara seperti Pasar Seni ITB, Dago Festival sampai pada kegiatan demontrasi politik dan balapan motor yang sering muncul dalam kurun waktu 10 tahun terakhir di jalan-jalan utama kota Bandung. Hal inilah yang agaknya kemudian membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik, juga termasuk perkembangan street fashion di Bandung, yang kemudian sedikit banyak juga ikut mendorong pertumbuhan distro-distro yang ada untuk terus berkembang biak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Selain itu, sebagian warga kota juga kemudian mendapatkan sarana fashion daur ulang di wilayah Tegalega yang konon sempat dihuni oleh sekitar 3000 lapak penjaja pakaian bekas pakai yang kebanyakan diimpor dari luar negeri. Berbeda dengan distro, bisnis impor pakaian bekas yang sejak tahun '95-an berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain semisal daerah Cibadak, Kebun Kelapa, sampai akhirnya di daerah Tegalega ini terlihat jauh lebih sederhana. Walaupun sekarang aktifitas di Tegalega sudah dipindahkan ke tempat yang lain (daerah Gedebage), tempat ini tetap memiliki pengaruh yang khusus bagi perkembangan fashion di kota Bandung. Di tempat-tempat fashion daur ulang semacam ini, pakaian bekas yang biasanya didatangkan dari luar negeri, sesampainya di lapak langsung disetrika dengan uap panas dan dijual dengan harga yang sangat murah oleh para pedagang, yang kebanyakan adalah perantau dari daerah Padang, Sumatra Barat. Di tempat ini pulalah banyak orang dapat menemukan pakaian-pakaian bekas dengan berbagai macam model, dari mulai t-shirt, sweater, gaun pesta, jaket kulit, berbagai macam asesoris, sampai pada jenis pakaian model vintage yang terlihat kuno dan dianggap ketinggalan jaman, yang kemudian menjadi bahan inspirasi gaya berpakaian mereka sehari-hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Situasi kota yang memiliki karakteristik yang khas semacam ini, tentu saja sangat berperan bagi munculnya berbagai fenomena baru yang terus menerus mewarnai perkembangan masyarakat di Kota Bandung. Selain itu, secara geografis Kota Bandung berada di wilayah yang relatif mudah di akses. "&lt;i&gt;Karena Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang…lagian orang-orangnya juga kekeluargaan, cair banget, baturlah, semua dianggap sama.&lt;/i&gt;" Ujar Dede pada suatu kesempatan. Hal ini juga kembali disepakati oleh Dadan Ketu. Menurutnya, mereka yang berusaha di bidang clothing lokal tidak menemui kesulitan yang berarti ketika mereka harus berproduksi. "&lt;i&gt;Mau cari bahan gampang pisan, tinggal ke Jalan Otista, Tamim, Cigondewah, Cimahi, Majalaya, terus tukang nyablon juga di sini mah banyak pisan, jadi nggak susah.&lt;/i&gt;", jelasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Paska 1990: Desa Global, GMR, dan MTV&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Tidak hanya di era '90-an – apabila kita lihat beberapa catatan di atas – sejak awal kemunculannya harus diakui Kota Bandung memang banyak menerima pengaruh dari Barat (Eropa Barat &amp; Amerika). Namun, pada periode berikutnya tidak dapat dipungkiri kalau ada pengaruh lain yang tak kalah penting bagi perkembangan scene anak muda di Bandung, yaitu media. Sebagai contoh di bidang musik misalnya, melalui tangan dingin seorang Samuel Marudut (alm.), pada tahun '92-an sebuah radio yang bernama GMR menjadi satu-satunya radio di Indonesia yang membuka diri untuk memutarkan rekaman demo dari band-band baru yang ada di kota ini, sehingga ikut memicu pertumbuhan scene musik yang ada pada saat itu. Selain memicu pertumbuhan komunitas musik di Kota Bandung, radio ini juga ikut mempopulerkan keberadaan beberapa band yang berasal dari luar kota Bandung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Selain itu, perkembangan di bidang teknologi media &amp;amp; informasi juga secara radikal mampu mendorong perkembangan budaya kota di Bandung kearah yang lebih jauh. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band baru merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream &amp; produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari clothing lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Melalui keberadaan beberapa komunitas anak muda yang senantiasa menyediakan barang-barang yang mereka produksi secara mandiri, setidaknya kita dapat melihat berbagai kumpulan tanda yang baru yang berbeda dengan masa sebelumnya. Apabila pada masa sebelumnya komunitas anak muda di Bandung sangat bergantung pada industri mapan dan berbagai produk impor, saat ini beberapa komunitas yang ada sudah mampu memproduksi kebutuhan mereka secara independen. Dalam beberapa kesempatan, wacana budaya perlawanan (&lt;i&gt;counter culture&lt;/i&gt;) pun kerap mewarnai keberadaan komunitas ini. Diantara beberapa perilaku komunitas anak muda yang disebutkan tadi, setidaknya kita bisa melihat ini sebagai sebuah sikap politik yang membangun bentukan watak yang khas. Bagi beberapa komunitas anak muda di Bandung, musik dan fashion saat ini bukan lagi hanya sekedar trend. Musik dan fashion dapat juga dilihat sebagai bentuk ekpresi kemandirian politik yang mampu mengakomodasi berbagai aspirasi personal yang mereka miliki. Untuk itu, saya rasa dalam konteks perbincangan mengenai perkembangan kelompok subkultur di kota Bandung, sebetulnya musik dan fashion juga dapat dilihat sebagai instrumen yang mampu menjelaskan berbagai pandangan dan perbedaan yang menyertai keberadaan komunitas-komunitas ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Pertumbuhan yang pesat yang sangat ditunjang oleh keberadaan beberapa media seperti stasiun TV, radio, majalah, fanzines, dan terutama internet, terus saja mendorong perkembangan komunitas anak muda di Bandung. Selain semakin memperjelas keberadaan beberapa komunitas yang ada, kemunculan berbagai macam media juga menambah perluasan jaringan sampai ke kota-kota lain di luar Bandung, malah sampai ke luar negeri. Ketika mulai merilis kaset dibawah label 40124 pada pertengahan ’90-an, Richard mengaku pernah mendapatkan pesanan kaset rilisannya dari seorang penggemar musik-musik underground dari Jepang, yang kebanyakan memesan melalui internet. Lewat label 40124 ini, pada tahun 1996 Richard juga sempat merilis album kompilasi legendaris yang diberi judul "masaindahbangetsekalipisan", yang berisi kumpulan lagu dari beberapa band lokal seperti Full of Hate, Rotten to The Core, Sendal Jepit, Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, dsb. Sementara itu, Dadan Ketu menyatakan kalau sekarang ini memang sudah sangat biasa kalau ada salah seorang pengunjung distro di Bandung datang dari luar negeri, semisal Singapura atau Malaysia. "&lt;i&gt;Mereka datang biasanya langsung ngeborong, bawa kaset 100 biji untuk dijual lagi di negeri asalnya, ada yang bayar kontan, ada juga yang nyicil,&lt;/i&gt;" ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Wujud dari terbentuknya jaringan yang meluas ini sebetulnya sudah semakin terasa sejak tahun '97. Pada bulan Agustus 1997 sebuah label rekaman punk dari Perancis yang bernama Tian An Men 89 Records merilis sebuah kompilasi yang berjudul "Injak Balik! a Bandung HC/Punk comp". Kompilasi ini didukung oleh sejumlah band Bandung seperti Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dan All Stupid. Kebanyakan subject matter dari musik dalam album kompilasi ini berisi berbagai statemen politik yang disampaikan secara lugas oleh setiap band yang ikut terlibat di dalam proyek ini. Tidak hanya berhenti di situ, pada tahun 1999, label lokal yang bernama FastForward Records kemudian merilis beberapa album dari band yang berasal dari luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), 800 Cheries (Jepang), dan lain sebagainya. Menurut Marin, salah seorang pendiri dari FastForward Records, setidaknya media-media komunikasi seperti internet, mesin fax dan jaringan telepon punya andil besar dalam proses produksi album dari band-band ini. Sekarang, label lokal yang merilis musik yang berasal dari luar negeri sudah bukan barang yang aneh lagi. Malah, beberapa band lokal di Bandung juga sudah banyak yang berkesempatan dirilis oleh label di mancanegara. Beberapa diantaranya adalah Homicide, Domestik Doktrin, Jasad, dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Perluasan jaringan yang mempertautkan perkembangan di bidang musik dan fashion dengan perkembangan media dan teknologi informasi ini setidaknya melahirkan sebuah kombinasi perkembangan (kebudayaan) yang baru, baik dari segi ideologi sampai pada manifestasinya dalam pola kehidupan sehari-hari sebagian komunitas anak muda di Bandung. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun perkembangan yang ada di kota Bandung tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan setiap gejala perkembangan di tingkat global. Seiring dengan perkembangan jaman, sampai saat ini scene anak muda di Kota Bandung masih terus tumbuh untuk terus melengkapi pola perkembangannya dengan wajah dan berbagai versinya yang baru. Jangan kaget kalau tiba-tiba anda bertemu dengan sekelompok anak muda dengan gaya yang identik dengan gaya anak muda di belahan dunia yang lain. Kota ini memang sedari dulu sudah menjadi bagian dari kota-kota lain di seluruh dunia. Salut! Selamat datang di Kota Bandung!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kyai Gede Utama, 16 Januari 2006&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;**penulis adalah seniman, saat ini bekerja untuk Bandung Center for New Media Arts dan Common Room Foundation&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;End Notes:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;(1) Sebagian isi dari artikel ini telah diterjemahkan ke dalam artikel berbahasa Inggris yang berjudul "Bandung Underground on Parade" untuk Majalah Latitudes edisi Maret/April 2003. Selain itu, beberapa point dari artikel juga dipresetasikan dalam acara Kongres Kebudayaan VII di Bukitinggi (20-22 Oktober 2003), pada sesi "Budaya Industri dan Pergulatan Identitas".&lt;br /&gt;(2) Singkatan dari distribution outlet. Istilah ini mulai populer di Bandung pada pertengahan '90-an untuk menggambarkan keberadaan toko-toko kecil yang menjual berbagai produk semacam kaset, t-shirt dan merchandise buatan lokal ataupun luar negeri yang biasanya dikelola secara individu ataupun berkelompok.&lt;br /&gt;(3) Wawancara dengan Richard Mutter.&lt;br /&gt;(4) Dari www.pantau.or.id, download terakhir 1 Maret 2003&lt;br /&gt;(5) Wawancara dengan Tommy Dwi Djatmiko&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-114016993135099639?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/114016993135099639/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=114016993135099639' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/114016993135099639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/114016993135099639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2006/02/fuck-you-were-from-bandung-mk-iii-1.html' title='Fuck You! We&apos;re From Bandung! - MK III (1)'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-113092833095466786</id><published>2005-11-02T02:35:00.000-08:00</published><updated>2005-11-08T06:20:05.383-08:00</updated><title type='text'>The First Conference Of The Third World</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/zhouenlai2-li.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/zhouenlai2-li.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Premier Zhou Enlai speaks at the Afro-Asian Bandung Conference held in Indonesia, April, 1955. During the meeting, Premier Zhou advocated the principle of "seeking common ground while shelving differences" and suggested setting the Five Principles as a base for establishing friendly, cooperative relations between countries of different social systems.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The First Conference Of The Third World&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bandung’s lost illusions&lt;br /&gt;By Jean Lacouture**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Le Monde Diplomatique&lt;br /&gt;May 2005&lt;br /&gt;http://mondediplo.com/2005/05/17bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The term third world was first used at a conference in Bandung, Indonesia, 50 years ago, when representatives of half the planet, formerly the old colonial empires, met. The conference’s main figures -Nehru, Nasser, Zhou Enlai - were already in power. Others, including the leaders of independence movements in North Africa, were still struggling and unknown.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG, which is the name of a hill resort in Java, may mean little to those who were born during the cold war, 1949-1989, and the spread of the empire of the United States. It might suggest a forgotten conference or battle sometime between Yalta and Dien Bien Phu. But for those of us who tramped the world with a pen in our hands and an expired or forged visa in our pockets, it meant a great deal for two or three decades. It symbolized the age of decolonization, when empires were rolled back by means other than total war and a new world seemed possible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We could choose a dozen turning points in history between the death of Stalin in 1953, which ended the bellicose phase of Soviet communism, and the fall of the Berlin wall in 1989, which marked the end of the cold war: the Geneva peace accords of 1954 that terminated France’s war in Indochina; the Cuban missile crisis of 1963 when nuclear war seem edimminent; the explosion of China’s hydrogen bomb in 1967; the collapse of US forces in Saigon in 1975; the emergence of militant Islam, in the form of Iran’s Ayatollah Khomeini, in 1979. Among them we would have to include the few days in the spring of 1955 when representatives of more than half of humanity gathered in Bandung, an hour’s flight from Jakarta, to proclaim the end of the colonial era and the emancipation of the peoples of Asia and Africa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today it is hard to imagine the impact of the Bandung conference, which represented a much larger proportion of the world’s population than the peace conferences of Versailles in 1919 or Yalta in 1945. It did not change the face of the earth or even greatly advance African emancipation. But it was a worldwide version of the 1789 Estates-General. Leopold Sédar Senghor (1) likened it to a gigantic release of prisoners. Quoting Jean Giraudoux’s Electra, the geographer Yves Lacoste called Bandung the dawn of a new era. The conference prompted the economist Alfred Sauvy to coin the term "third world" - often attributed to his publisher, the ethnologist Georges Balandier, who, I remember, had already used the term.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It refers to the beginning of the French Revolution and the passage from Emmanuel Joseph Sieyès’s 1789 pamphlet:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What is the third estate? Everything. What has it been hitherto in the political order? Nothing. What does it demand? To become something&lt;/span&gt;"(2). Sauvy designated all the peoples of Asia and Africa as the "third world": they belonged to neither the European "nobility" nor the US "clergy" but accounted for a huge share of the world’s human and material resources and were determined to have that fact recognized by the capitalist and communist worlds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The idea was widely accepted by enlightened liberals, at least by their social-democratic strands, but was denounced as a distraction by Afro-Asian revolutionaries, who maintained that the proletariat of the workers and of colonized peoples were inseparable, and were not prepared to take a position between capitalism and Marxism-Leninism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The third-worldism that emerged from Bandung – a resurrection of colonized peoples led by men like the prime minister of communist China, Zhou Enlai (3) – should not be confused with non-alignment, a strategy promoted by Yugoslavia’s president, Marshal Josip Tito, at a conference in Belgrade in 1961 which, independent of the colonial question, was aimed at coordinating the actions of states (4) that resented for cibleenlistment in either the western or the Soviet camp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bandung conference, which was attended by such vociferous allies of the West as Sri Lanka (then still called Ceylon), Pakistan, Turkey and Iran, signaled the end of the colonial era. The Belgrade conference was a platform for neutrality or non-alignment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The proposal to hold an Afro-Asian con­ference in Bandung, put at the disposal of the delegates by the Indonesian president, Ahmad Sukarno (5), came from the Colombo group: India, Pakistan, Ceylon, Burma and Indonesia. The success of the initiative surpassed their expectations: more than 1,000 representatives of 50 states and 30 anti-colonial resistance movements, including the Algerian National Liberation Front (FLN), the Tunisian Neo-Destour movement and the Moroccan Istiqlal (Tunisia and Morocco did not gain independence until 1955-56), arrived to a warm welcome from the Indonesian authorities, whose organization liabilities were widely praised.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Those in France who had laughed at the Afro-Asian jamboree were surprised by a report from Le Monde’s perceptive and moderate special correspondent, Robert Guillain: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;People in Europe and America are already describing this as a conference of Asian and African revolt against white oppression. I believe it is nothing of the kind. Seen from close up, the revolt is not particularly fierce. The rebels are gentler than one imagines. Does that mean we should not take the conference seriously? Not at all. But it is not a tragedy. This festival of the brown, yellow and black, from which white faces are absent, is a sign of the times. But it is much more of a celebration than a plot. And that is what the Indonesians clearly intended it to be. This much can be said: the organizers of the Afro-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asian conference assures us that it is not a racial assembly, a war machine directed against the West, or the beginning of an anti-white block&lt;/span&gt;" (6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guillain noted a compelling desire for unity rather than moderation, and for an Afro-Asian League of Nations in the near future. The wretched of the earth were dreaming of paradise rather than revenge. Almost all the reports filed in the seven days of the conference were similar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not that Sukarno’s guests, who included India’s first prime minister, Jawaharlal Nehru, were all imbued with a spirit of neutrality. The second dominant figure at the conference was Zhou, prime minister of China, which did not yet describe its revolution as cultural and had not distanced itself from the post-Stalinists in Moscow. China had finished participation in the Korean War only two years earlier and was staunchly supporting North Vietnam, represented by Pham Van Dong, against Washington.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beside the Chinese was the Egyptian leader, Gamal Abdel Nasser, who was moving swiftly to the left, and Hocine Ait Ahmed, leader of the Algerian uprising that had begun on 1 November 1954.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pro-US party included the Turks, the Iraqis and the Pakistanis, who were signatories to the Baghdad Pact (7), plus the Sinhalese. They quickly attempted to get the conference to condemn Marxist influence from either side of the Suez Canal. One of the rare incidents during the peaceable proceedings was the result of an attempted denunciation of Soviet colonialism, but otherwise the atmosphere mostly remained calm throughout. To the great disappointment of the Tunisian revolutionary Salah Ben Youssef and others from the Maghreb, the representatives of the large countries refused to turn the conference into an indictment of France, which was more exposed to anti-colonialist campaigns at the time than was Britain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nehru, considered a guarantor of relative moderation by his British friends and also the US and France, had at first appeared to be the force behind the conference. But Zhou, Mao’s closest companion, soon took the leading role. Ten months earlier, at the Indochina conference in Geneva, he had emerged as a man of compromise, a diplomatic virtuoso with a smile for everyone. All reports from Bandung agreed that Zhou set the tone from the outset. His principle was that the proceedings of the pluralistic, multi-ethnic conference could not be governed by ideology: the only possible strategy was to dissolve colonialism in an ocean of peace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neither the anti-colonial diatribes of the North Africans nor the rhetorical accusations directed against Israel by Nasser and his Syrian and Libyan colleagues upset the consensus. The only major incident happened when Ceylon’s prime minister, Sir John Kowetawala, supporting the US, urged the conference not to be obsessed by the old-style colonialism of the French and British; but to be equally critical of the new colonial regimes that the Soviet Union had imposed on Eastern Europe. Amid uproar, several delegates, including three spokesmen from the Arab world, protested that the conference had not been called to "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;listen to the propaganda of John Foster Dulles&lt;/span&gt;" (then the US secretary of state, who was already talking about "the struggle between good and evil") and that Kowetawala’s accusation was out of place at an Afro-Asian conference. He dropped the matter; content to know his outburst would gain him credit in the right quarters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhou joined in the criticism of Kowetawala’s diplomatic gaffe. But during a break in the proceedings he was seen conferring with Kowetawala, who reported with some satisfaction that Zhou had told him there were "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;interesting points in his intervention&lt;/span&gt;". Not content with initiating an anti-Soviet strategy that was to emerge publicly 10 years later, Zhou began at the conference a manoeuvre with the US that prefigured the deal he struck with Henry Kissinger in the early 1970s over Vietnam. It was particularly effective as it came on the fourth day, when the conference was flagging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhou intimated that the Taiwan issue could be settled peacefully and the area made neutral, especially as US forces were intending to leave the islands of Quemoy and Matsu. Provided that Washington did not continue personal support for Jiang Kaishek (8), a peaceful solution to Taiwan could be envisaged. The conference was encouraged by this suggestion, which received favourable comment in London and Paris. But the Chinese overture was ignored by those for whom it was intended: US state department strategists saw it as a trap. Perhaps they were right, but their suspicious view was a preparation for difficult times ahead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whether Washington liked it or not, Zhou had imposed himself as the master of ceremonies at a worldwide conference. By his generous manner as well as official acts, formal moderation and use of the language of peace, he opened a highway for Chinese diplomacy. He had avoided committing himself too far in support of North Vietnam, which, a year after the Geneva partition, had not yet begun its great campaign to recover the south; the Chinese were in no hurry to see this successfully completed. As François Mauriac said about Germany, Zhou was so fond of Vietnam that he preferred to have two Vietnams rather than one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reading the reports of the conference today, one is struck by the vagueness, even emptiness, of the deliberations, as well as by their moderation. Those who compared them with the reports from the Tricontinental conference in 1966 (9) noted that the newly independent peoples had by then become much more aggressively militant. Historians drew parallels with the change of tone between the Constituent Assembly of 1791 and the Convention of 1794.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was a foreign correspondent in Cairo at the time of Bandung and watched Nasser take off for Indonesia. He was tense, worried about tension on the border with Israel, the prospect of having to arrange future arms purchases through eastern bloc suppliers rather than western arms dealers, and the risk of reprisals from Washington. His departure was low key. The Egyptian left, which was mostly still rather cool towards him, had begun to form Bandung committees, especially in the universities, but they were poorly rewarded: Nasser’s departure was accompanied by the arrest of several Marxist leaders, as if he wanted to let the West know that his trip had no ideological significance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On his return 10 days later, Nasser was given a hero’s welcome. The Egyptian and international press had highlighted his role in Bandung, where the respect shown to him, rather than his brief speeches, had made him appear as the third great figure at the conference. I had seen many emotional demonstrations in the streets of Cairo, when crowds had carried huge banners bearing Nasser’s slogan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lift your head, my brother, the time of humiliation has passed&lt;/span&gt;". But in that spring of 1955 the Egyptian capital went into an ecstatic trance that ended only with Nasser’s funeral 15 years later. The full meaning of the change was evident when the leaders of the militant left sent Nasser a message of congratulations that was published in the official press, which seldom allowed them into the limelight. The message came from the prisons into which Nasser had thrown the leaders, a rare tribute to a jailer. Two young Marxist activists, Baghat Elnadi and Adel Rifrat, joined the Bandung committees: a few years later they published, under the joint pseudonym Mahmoud Hussein, Class Conflict in Egypt (10), familiar to everyone interested in the social and cultural history of the Arab Middle East.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite its lack of ideological and strategic content, the Bandung conference was a new dawn for colonized peoples. Perhaps it was more of a moment in history than a moment that made history. The talking produced more effervescence than practical proposals. Yet it changed the international balance of forces. The US was rebuffed, Moscow put in the shade and French colonialism harshly condemned. China became a major influence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung may not have lived up to the expectations of third-world revolutionaries, but it established the third world as a player in the political arena, not just a source of exploitable human and raw material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The idea of the third world has lost much of its appeal since then. One of the best minds of its generation, Paul-Marie de La Gorce, who died recently at the age of 76, was in a state of exultation through the conference. But almost 20 years ago he drew a sad conclusion: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Many hopes have been disappointed, many illusions shattered, many predictions belied by history. Now disenchantment and skepticism are all the rage: the third world, it is said, has solved none of its problems, not hunger, not underdevelopment, not disunity; its attempts at socialism have ended in tropical dictatorships, its capitalist ventures in cosmopolitan corruption. At any rate, no power centre or developmental axis has emerged. It is a remarkable fact that Pascal Bruckner’s The Tears of the White Man (11) - a book filled with bitterness and resentment, in which all anti – colonialism, any effort to understand the third world or combat underdevelopment are equated with guilt feelings, self-hatred and masochism - has had considerable success in France.&lt;/span&gt;" (12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What used to be called the third world lost much of its moral and strategic attraction between Bandung and the Iraq war, via the killings of Che Guevara and Mehdi Ben Barka, the defeat of Nasserism, the sterile Vietnam victory and the horrors of the Khmer Rouge. The dislocation of the socialist camp and the great Sino-Soviet quarrel must take much of the blame, as must France’s pathetic neo-colonialist manoeuvres in Africa and, even more so, Islamist fundamentalism and terrorism, which destroyed the Algerian revolution, among other things. There is also the current corruption of local elites, a self-satisfied bureaucracy and omnipresent police repression.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Will Bandung be remembered only as a lost illusion? In France the storming of the Bastille led to the empire, the Restoration and war, and only finally to the republic. Perhaps the present Bush system will result in other Bandung’s one day soon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jean Lacouture is a historian and author most recently of ‘Gamal Abdel Nasser’&lt;/span&gt; (Bayard/BNF, Paris, May 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Translated by Barry Smerin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Also read: End of empires.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Léopold Sédar Senghor (1906-2001), Senegalese poet and statesman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Emmanuel Joseph Sieyès (1748-1863), Qu’est-ce que le Tiers état? Paris, January 1789.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) The name of the former prime minister and foreign minister of the People’s Republic of China, formerly transcribed as Chou En-lai, is now Zhou Enlai in the official transliteration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Cuba (where the revolutionaries took power in January 1959) became the first Latin American state to join the non-aligned states of African and Asia in Belgrade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) See Internet Modern History Sourcebook: Ahmad Sukarno, "Speech at the opening of the Bandung conference", 18 April 1955.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Le Monde, 27 April 1955.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) A mutual defense treaty concluded on 24 February 1955 by Iraq, Turkey, Britain, Pakistan and Iran, under the aegis of the US. Its aim was to contain nationalist movements and Soviet influence in the regions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8) Jiang Kaishek (1887-1975), formerly transliterated Chiang Kai-shek, general and president of the Republic of China. After his victory over the Japanese, he was defeated by Mao Zedong’s communist forces and took refuge with his army on the island of Taiwan, protected by the US.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9) The Tricontinental conference of African, Asian and Latin American peoples, held in Havana in January 1966, which led to the Organization for Solidarity with the People of Africa, Asia and Latin America and the Latin American Solidarity Organization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(10) Class conflict in Egypt, 1945-1970, translated by Michel Chirman, Monthly Review Press, New York, 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(11) The Tears of the White Man: Compassion as Contempt, translated by William Beer, Macmillan, London, 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(12) "Le recul des grandes aspirations révolutionnaires", Le Monde diplomatique, May 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;More links:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.chinabroadcast.cn/2238/2005-4-15/33@228070.htm"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://en.chinabroadcast.cn/2238/2005-4-15/33@228070.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://www.fmprc.gov.cn/eng/ziliao/3602/3604/t18053.htm"&gt;http://www.fmprc.gov.cn/eng/ziliao/3602/3604/t18053.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://english.people.com.cn/200406/28/eng20040628_147763.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://english.people.com.cn/200406/28/eng20040628_147763.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Five_Principles_of_Peaceful_Coexistence"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Five_Principles_of_Peaceful_Coexistence&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Peaceful_coexistence"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Peaceful_coexistence&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Ten Principles of Bandung (Dasa Sila Bandung) :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; 1. Respect for fundamental human rights and for the purposes and principles of the Charter of the United Nations;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;2. Respect for the sovereignty and territorial integrity                              of all nations;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;3. Recognition of the equality of all races and of                              the equality of all nations, large and small;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;4. Abstention from intervention or interference in                              the internal affairs of another country;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;5. Respect for the right of each nation to defend                              singly or collectively, in conformity with the&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; Charter                              of the United Nations;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;6. (a) Abstention from the use of arrangements of collective defense to serve the particular interests of any of the big powers and (b) Abstention by any country from exerting pressures on other countries;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;7. Refraining from acts or threats of aggression or the use of force against the territorial integrity or political independence of any country;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;8. Settlement of all international disputes by peaceful means, such as negotiation, conciliation, arbitration or judicial settlement or other peaceful means of the parties' own choice, in conformity with the Charter of the United Nations;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;9. Promotion of mutual interests and co-operation;                             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;                             10. Respect for justice and international obligations.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.ciis.org.cn/item/2005-03-14/50870.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sources&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-113092833095466786?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/113092833095466786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=113092833095466786' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/113092833095466786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/113092833095466786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2005/11/first-conference-of-third-world.html' title='The First Conference Of The Third World'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-112897519661110750</id><published>2005-10-10T13:07:00.000-07:00</published><updated>2005-10-10T20:32:43.440-07:00</updated><title type='text'>Lawatan Empat Kota di Asia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/ipoh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/ipoh.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Baru-baru ini saya mendapat kesempatan melakukan lawatan ke empat kota di wilayah Asia Tenggara untuk mengunjungi beberapa ruang seni dan bertemu dengan para seniman yang tinggal di sana. Adapun tujuan dari lawatan ini salah satunya adalah untuk membangun jaringan kerjasama diantara para seniman muda yang berdomisili dan bekerja beberapa kota Asia, selain untuk melakukan perbandingan perkembangan seni rupa yang ada di masing-masing kota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kota pertama yang saya kunjungi adalah Singapura. Ketika saya disana, kebetulan ada pembukaan ruang seni yang bernama 72-13 (website: www.72-13.com). Bertempat di sebuah bekas gudang beras tua yang bersebelahan dengan Singapore River, tempat ini kabarnya menjadi markas baru bagi kelompok TheatreWorks, sebuah kelompok teater yang sudah berdiri sejak tahun 1985. Selain memiliki ruang untuk seni pertunjukan yang dapat menampung sekitar 250 penonton, 72-13 rencananya juga akan berfungsi sebagai ruang galeri yang dapat digunakan sebagai tempat pameran dan residensi bagi seniman manca negara yang berasal dari berbagai latar belakang disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura tampaknya pemerintah setempat memiliki kebijakan untuk merevitalisasi gedung-gedung tua yang bersejarah menjadi ruang untuk kegiatan seni semisal gedung pertunjukan, galeri, museum, dsb. Di kota Bandung kita juga memiliki beberapa gedung tua yang kini sering digunakan untuk kegiatan seni, yaitu Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan, Galeri Kita yang bertempat di Jalan Riau, Gedung AACC di Jalan Braga, dsb. Bedanya mungkin hanya sedikit, ruang-ruang seni di Singapura sepertinya didukung dengan perencanaan &amp; sumber dana yang lebih memadai sehingga dapat dikelola dengan profesional dan dapat melayani kebutuhan warga kota Singapura dengan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari Singapura, saya kemudian melakukan kunjungan singkat ke Kuala Lumpur. Di kota ini ada beberapa galeri yang dikelola oleh pemerintah, perusahaan swasta, maupun perorangan. National Art Gallery (Balai Seni Lukis Negara) adalah salah satu contoh galeri yang dikelola oleh negara. Galeri yang telah berdiri sejak tahun 1958 ini sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah untuk dapat menjalankan kegiatannya. Galeri Petronas adalah salah satu contoh galeri yang dimiliki oleh perusahaan komersial. Terletak di KLCC Tower, galeri ini didirikan pada tahun 1993 oleh Petronas, sebuah perusahaan minyak terbesar yang dimiliki oleh pemerintah Malaysia. Sementara itu, galeri yang dikelola oleh perorangan contohnya adalah Galeri Seni Maya &amp;amp; Valentine Willie Fine Art yang terletak di daerah Bangsar Baru. Selain sering memamerkan karya seniman Malaysia, galeri ini juga rajin memamerkan karya seniman dari luar Malaysia. Agus Suwage dan Rahmaiani adalah seniman Indonesia yang tercatat pernah berpameran di galeri Valentine Willie Fine Art.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kuala Lumpur, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Ipoh, sebuah kota kecil yang berjarak kurang lebih 200 km dari Kuala Lumpur. Di kota ini saya diundang untuk menghadiri diskusi yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesenian Perak, sebuah organisasi budaya yang berdiri pada tahun 1996 (website: http://www.rumahykp.org.my). Dalam diskusi tersebut kami membicarakan banyak hal, terutama beberapa perbandingan perkembangan seni rupa di masing-masing negara paska 1998. Selain itu, kami juga mendiskusikan berbagai aspek narasi mikro yang terkait dengan perkembangan seni rupa, terutama berbagai peristiwa sejarah kecil yang selama ini biasanya “tersembunyikan” oleh alur sejarah formal yang kebanyakan diproduksi oleh berbagai institusi yang memiliki kepentingan politik tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang terasa sangat mencolok adalah kebanyakan institusi seni di Malaysia didukung penuh keberadaannya oleh pemerintah setempat. Namun dukungan ini biasanya disertai dengan kontrol yang ketat dari pemerintah Malaysia, sehingga seniman di sana tidak dapat terlampau bebas mengekspresikan aspirasi artistiknya. Situasi semacam ini tampaknya berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia. Walaupun perkembangan seni di Indonesia terasa lebih semarak, dukungan pemerintah terhadap aktifitas seni terasa sangat minim. Oleh karena itu kebanyakan institusi seni di Indonesia dikelola secara mandiri oleh para seniman maupun masyarakat umum. Ambil contoh misalnya Galeri Nadi dan ruangrupa di Jakarta, Selasar Sunaryo Art Space dan Nyoman Nuarta Sculpture Park di Bandung, ataupun Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan saya kemudian diakhiri dengan mengunjungi kota Bangkok di Thailand. Di kota ini saya berkesempatan untuk menghadiri pembukaan pameran yang menampilkan karya 3 seniman lokal, yaitu Vasan Sitthiket, Adulphan ls-sarangul-an-ayutdhaya dan “Bobby” Suphasit Vong-rom-ngen. Seri karya Vasan Sitthiket yang diberi judul “Sex Bomb: 24 Hours” sempat mencuri perhatian saya melalui ungkapan yang banal terhadap berbagai peristiwa politik global, yang dibumbui dengan humor &amp; lelucon yang konyol. Sebuah kumpulan ekspresi satir yang mengingatkan saya akan karya Isa Perkasa &amp;amp; Tisna Sanjaya. Sementara itu Adulphan dan Bobby menampilkan seri lukisan pemandangan yang lebih tenang dan terasa sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, saya juga sempat mengunjungi The Rajata Art House, sebuah ruang inisiatif yang dikelola oleh seniman muda Thailand yang memiliki latar belakang yang beragam. Di tempat ini, berbagai kegiatan seni yang melibatkan publik banyak dilakukan. Aktifitas mereka hampir mirip dengan kegiatan Jendela Ide yang berdomisili di kota Bandung dan Rumah Dunia di kota Serang. Salah seorang dari mereka sempat menceritakan kalau sebenarnya gagasan membuka tempat ini berawal dari diktat penelitian mereka mengenai managemen budaya. Dibantu oleh dosen (Pracamkrong Pongpaiboon) &amp;amp; beberapa teman dekat, akhirnya gagasan yang mereka tuliskan di dalam tugas kuliah berhasil direalisasikan dan mendapatkan sambutan yang baik di sebagian kalangan warga kota Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Gede Utama, 11 Oktober 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan foto:&lt;br /&gt;Berfoto bareng bersama teman-teman di Yayasan Kesenian Perak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-112897519661110750?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/112897519661110750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=112897519661110750' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112897519661110750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112897519661110750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2005/10/lawatan-empat-kota-di-asia.html' title='Lawatan Empat Kota di Asia'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-112897177237337125</id><published>2005-10-10T12:05:00.000-07:00</published><updated>2005-10-10T13:27:36.223-07:00</updated><title type='text'>Sedikit Catatan dari Pelaksanaan The Third Asia Europe Art Camp 2005</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/artcamp2005.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/artcamp2005.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kira-kira pada pertengahan bulan yang lalu, saya dan beberapa teman yang tergabung di dalam organisasi Bandung Center for New Media Arts baru saja menyelesaikan penyelenggaraan The Third Asia Europe Art Camp 2005 yang dilaksanakan di Bandung sejak tanggal 4 s/d 12 Agustus 2005. Program yang diselenggarakan secara bersama dengan The Asia-Europe Foundation ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga setelah sebelumnya diselenggarakan di Paris (2003) dan Tokyo (2004), masing-masing diselenggarakan dengan tema dan fokus pembahasan yang berbeda. Untuk pelaksanaan program di Kota Bandung, kegiatan yang diikuti oleh 20 mahasiswa seni rupa yang berasal dari 20 negara Asia &amp; Eropa ini secara khusus membahas keberadaan ruang inisiatif dan kaitannya dengan praktik seni media baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan ini juga diundang beberapa narasumber yang berasal dari wilayah Asia &amp;amp; Eropa seperti misalnya DR. I. Bambang Sugiharto (Univ. Parahyangan, Bandung – Indonesia), Pracamkrong Pongpaiboon (Art Connection, Bangkok – Thailand), Agung Hujatnikajenong (Kurator Selasar Sunaryo Art Space, Bandung – Indonesia), Kentaro Taki (Video Art Center Tokyo – Jepang), Rob van Kranenburg (Virtueel Platform, Amsterdam – Belanda), Ade Darmawan (ruangrupa, Jakarta – Indonesia), Shuddhabrata Sengupta (Sarai/ Raqs Media Collective, New Delhi – India), dan Akos Maroy (Nextlab, Budapest – Hungaria). Selama kurang lebih satu minggu lamanya, para peserta kegiatan ini mengikuti serangkaian kegiatan diskusi, workshop, dan kunjungan ke beberapa komunitas kreatif di Kota Bandung, yang diantaranya adalah Jendela Ide, 347/EAT – Room No. 1, If, Monik Shophouse, dsb. Selain itu para peserta juga melakukan kegiatan presentasi publik yang diselenggarakan pada tanggal 6 s/d 7 Agustus 2005 di Pusat Kebudayaan Perancis. Dalam kegiatan ini setiap peserta diminta untuk mempresentasikan karya masing-masing, yang kemudian diikuti dengan kegiatan diskusi yang melibatkan publik secara terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kegiatan workshop, Bandung Center for New Media Arts mengajak para peserta Art Camp untuk terlibat dalam proyek 36 Frames, yang dalam program ini secara khusus dirancang untuk membongkar kompleksitas persoalan ruang urban di Kota Bandung berdasarkan pandangan personal masing-masing peserta melalui medium fotografi. Proyek ini sebelumnya sudah pernah dilaksanakan di Bandung pada tahun 2004 dengan tema “Self” (Common Room, Bandung – Indonesia) dan Helsinki pada acara International Symposium for Electronic Arts 2004 (Bandung – Helsinki: City Surgery Project, Helsinki – Finlandia). Hasil dari workshop ini kemudian dipamerkan di Selasar Sunaryo Art Space mulai tanggal 11 s/d 21 Agustus 2005, yang dibuka dengan penampilan Biosampler (Bandung – Indonesia), Party Maker Inc. (Bandung – Indonesia), dan Heti Kohta (Helsinki – Finlandia). Dalam acara ini, juga dipamerkan sejumlah karya seni video yang dihasilkan oleh para seniman muda yang tergabung dalam beberapa ruang inisiatif dan organisasi seni di Bandung &amp; Jakarta dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Semuanya dirangkum oleh kelompok VideoBabes dalam program pameran seni video yang diberi tajuk Video/Hits/Art.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang sudah akrab dengan dunia seni rupa, bisa jadi keberadaan istilah ruang inisiatif (artist initiatives space) dan seni media baru (new media arts) bukanlah sebuah istilah yang asing lagi. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir misalnya, penggunaan istilah ruang inisiatif memang banyak dipakai untuk menjabarkan keberadaan ruang-ruang seni yang dikelola secara mandiri oleh para seniman. Melalui ruang-ruang semacam ini, berbagai kegiatan seni yang melibatkan publik secara terbuka banyak dilakukan sehingga memperkaya pemahaman dan pengalaman masyarakat luas tentang wacana ataupun perkembangan seni rupa jaman sekarang, baik di tingkat lokal maupun internasional. Tidak hanya melalui pameran, tetapi juga melalui berbagai aktifitas lain semisal workshop, diskusi, dan berbagai kegiatan yang memanfaatkan instrumen teknologi baru seperti internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, keberadaan istilah seni media baru setidaknya juga ikut mewarnai perbincangan seni rupa di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini. Sederhananya, seni media baru sebetulnya merupakan cabang perkembangan seni yang terintegrasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan &amp;amp; teknologi. Beberapa contoh yang bisa dikategorikan sebagai karya seni media baru mungkin diantaranya adalah karya para seniman yang memanfaatkan medium fotografi, video, internet, dsb. Namun jangan salah, dalam perbincangan mengenai wacana seni media baru, keberadaan teknologi sebetulnya tidak muncul secara dominan. Rob van Kranenburg, salah seorang narasumber dalam kegiatan ini menyatakan bahwa sebetulnya yang terlihat sangat spesifik dalam praktik seni media baru adalah aktifitas komunikasi dan diseminasi informasi, selain juga cara melihat persoalan dengan perspektif yang berbeda &amp; multidisiplin. Shuddhabrata Sengupta, seorang narasumber dari India malah lebih jauh lagi menyatakan bahwa sebetulnya tidak ada yang baru dalam seni media baru, karena sebetulnya yang dominan dalam praktik seni media baru adalah cara memandang persoalan sehari-hari dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dalam praktik seni yang selama ini dianggap lazim unsur-unsur estetika selalu menjadi tolak ukur yang utama, dalam praktik seni media baru masalah estetika mungkin hanya menjadi elemen penunjang saja. Yang utama sebetulnya adalah mekanisme produksi dan distribusi informasi, termasuk di dalamnya berbagai praktik yang mengaburkan batasan-batasan disiplin pengetahuan yang selama ini dianggap sudah terlampau mapan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila dalam praktik seni media baru, batasan antara yang seni dan bukan seni, ataupun batasan antara yang seni dan yang sehari-hari merupakan wilayah yang sering dipermainkan atau malah diintervensi. Dari sini tampaknya kita bisa melihat praktik seni media baru sebagai sebuah wilayah irisan yang mempertautkan seni dengan wacana ilmu pengetahuan dan teknologi, yang juga dapat terkait dengan persoalan keseharian kita. Dalam presentasinya, Akos Maroy (narasumber dari Hungaria) menyarankan kepada para peserta mahasiswa yang notabene memiliki latar belakang pendidikan seni, untuk bekerjasama dengan orang-orang yang memiliki latar pengetahuan yang berbeda, seperti misalnya ilmuwan dan ahli teknik. Menurutnya, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;banyak seniman yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup di bidang teknik sehingga memandang teknisi hanya sebagai tukang saja, padahal banyak juga yang bisa dipelajari dari seorang teknisi, dan demikian juga sebaliknya&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini senada dengan uraian yang disampaikan oleh DR. I. Bambang Sugiharto dalam tulisannya yang berjudul “Nomadic Aesthetics: The Aftermath of the End of Art”. Menurutnya, berbagai ekspansi yang terjadi di ranah seni visual, mulai dari seni lukis sampai seni patung, ataupun melalui berbagai materi hybrid yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan seperti misalnya penggunaan tubuh manusia dalam performance art, penggunaan benda tak terlihat semisal gas, energi (telepati), dan berbagai proyek seni di wilayah tak bertuan ataupun di ruang-ruang urban, sampai pada intervensi terhadap institusi sosial &amp; politik, termasuk penggunaan komputer, barang-barang elektronik, postcard, video, dsb; setidaknya mendorong pemahaman yang baru mengenai seni. Seni kemudian harusnya dapat dilihat sebagai istilah yang dinamis, yang dapat berpindah dari satu makna ke maknanya yang lain. Bergerak dari satu habitat ke habitatnya yang lain. Mungkin lebih jauhnya lagi, seni kemudian tidak harus hanya menjadi milik para seniman, tetapi juga bisa menjadi milik semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Gede Utama, 19 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan foto:&lt;br /&gt;Berdiri dari kanan: Nadia Rizky Yuliani (ID), Monica Ary K. (ID), Kathrin Oberrauch (IT/DE), Annabele Aw (SG), Alice Miceli (IT/BR), Gustaff H. Iskandar (ID), Rob van Kranenburg (NL), Yogie Achmad Ginanjar (ID), Kevin Dooley (UK/AT), Juraj Sukop (SK), Akos Maroy (HU), Nanna Debois Buhl (DK), Emma Lewis (UK), Charissa Delima a.k.a Nyonyo (ID), Dimas Arif Nugroho (ID).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk dari kanan: Naw San (MM), Gu Jinhui (CN), Valentine de Priester (FR), Suddhabrata Sengupta (IN), Ida Blekeli (FI), Lotte Meijer (NL), Manuelle Ouelet de Abreu Freire (PT), Sophie Fenyuezi (HU), Rael Artel (EE), Marie le Sourd (FR), Clarissa "Lisa" Chikiamco (PH), Park Sohyeon a.k.a Sonny (KR), Rani Ravenina (ID), Nareerat Sompong a.k.a Chompoo (TH), Eric Pauhrizi (ID), Goh Sze Ying (MY), Pracamkong Pongpaiboon a.k.a Kiao (TH).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-112897177237337125?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/112897177237337125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=112897177237337125' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112897177237337125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112897177237337125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2005/10/sedikit-catatan-dari-pelaksanaan-third.html' title='Sedikit Catatan dari Pelaksanaan The Third Asia Europe Art Camp 2005'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-112815180235248794</id><published>2005-10-01T00:25:00.000-07:00</published><updated>2005-11-21T23:09:24.070-08:00</updated><title type='text'>Fuck You! We're From Bandung! - MK II (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/jeruji1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/jeruji.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;The title of this article is deliberately takes from the backside of my friend’s t-shirt. As information, this text is actually take from an official t-shirt’s merchandise produce by Puppen; a legendary local hardcore band which is officially discharge on 2001. Actually, offensive’s text like this is already being use by plenty of people before Puppen. As example, “Fuck You! We’re From Texas!” or “Fuck You! We’re Motley Crue!”, both come from the USA. How does this text is delivered into Bandung by an underground’s local band, can be a material to be discussed which is also can represent our current’s daily life. Mimicry process, text saturation, and rapid dissemination of the latest global information are indeed an ordinary thing among the uprising of globalization’s process (I prefer to call it the creolization’s process). It includes also the swiftness of data &amp; information’s circulation pattern, which is being accommodated by the rapid development of information technology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; In the city of Bandung – for some of its citizen – the existence of many kind of t-shirt in the form as above is a common thing. As also the existence of many club and community as antique motorcycle, BMX bicycle, hip-hop music, electronic music, break dance, hardcore, grindcore, all the way through the community of punk music’s fans that is exist in almost every corner of the city. With their specific looks, these communities sometimes can be found within the area of Dago street, Gasibu park, BIP shopping mall, Cihampelas street, Braga’s street, etc. For some reason, most of the people in Bandung are still have time to spend in the details of their everyday life. These details lead to the diversity of lifestyle, gestures and various micro-ideologies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadan Ketu, that is what he called. Born in Bandung on 1973, he is a well-known figure in Bandung’s underground scene in the mid 90’s. In 1996, together with eight of his fellows, he forms a collective what nowadays known as Riotic. Through the same interest of ideology, this community starts to produce their own music label, which leads into a small store selling cassettes, band’s merchandise, t-shirt, and so forth. Dede is another thing, together with four friends of her, she create a distro(2) called Anonim back on 1999. Driven by their interest in music and film, this group starts to sell t-shirt that ordered online by the internet. Nowadays, aside from selling imported objects, they are also trade underground’s record, and clothing from local labels, which says exist over 100 labels–come and go. She says that the trading of local labels is increase dramatically in the time of economics’ crisis on 1996, for the cause of the expensiveness of imported stuff, as well as it’s unobtainable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riotic and Anonim are just exemplar from a series of other names such as, Reverse Clothing Company, Harder, Monik Clothing, 347 Boardrider &amp;amp; Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, and so on. Since mid 90’s, there is an emerging of community who produces and consumes from several small stores –call it distro– who sell stuffs that does not exist in any other stores, shopping mall, and factory outlet, that recently flourishing in Bandung. They start with a minimum investment, with an addition of companionship and the average ability of making and vending their own products. The uprising of this tendency is not only indicating the growth of youth scene of Bandung, but also in others city like Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, and so forth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Reverse: Small Base-Camp in Sukasenang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;It is Reverse, a small music recordings studio in Sukasenang area, that can be say as the important milestone of young communities development in Bandung on the 90’s. At the beginning, in the year of 1994, Richard Mutter, Helvi, and Dj Dxxxt (the initial founder of Reverse) is only marketing specific products to serve the fancy of rock fans and skateboard societies. It can be say that this community is the first thread of the growing of community and subculture’s group at the time. Reverse then becomes a distro, and selling CD, audiocassette, poster, artwork, accessories, includes also others local and imported stuff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After that, emerge other communities with more specific interest. Initially attend by rock fans and skateboard societies, Reverse start to pay a visit by others crowd scenes, such as pop music fanatic, metal, punk, hardcore, includes also skater, BMX, surf, and so on. Recently, Reverse being altered into Reverse Clothing Company, a label manages by Dj Dxxxt. As Richard say, asides from rock music and skateboard, the emerging of those variable communities is also being endorse by the images created by the film, such as The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian Trenchard-Smith/1983), Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), and others film that picturing different youth communities in the west (Western Europe and USA)(3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;There was time, I was looking everywhere for Frank Zappa’s poster. Whenever it was impossible to find, I certainly found it in Reverse!&lt;/span&gt;”, state Edi Khemod; drummer for a metal rock band call Seringai, whom also a writer, producer of Cerahati production house, and a member of Biosampler; a multimedia group of artists who often appear in front of Bandung and Jakarta club’s scene. The urgency to serve special needs is the thing that passes into later generation of distro. According to Richard, those who come to Reverse are mostly try to find stuff that does not exist in the store, shopping’s mall, or department store. This is also admitting by Dadan and Dede. They say that most of the people who come to the distro is having specific needs that differ from ordinary people. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;That is why they are looking for the unusual thing which is hard to find in more establish environment&lt;/span&gt;”, says Richard in an interview. I found it natural, as the young people tend to find a new and different experience.&lt;br /&gt;Seems that, from this particular condition, the lively development of music industry as well as the fashion trends of young people in Bandung, always in change and find its novelty. It starts from the era of jeans outlet in Cihampelas street, Jayagiri’s backpack, C-59’s t-shirt, local clothing, underground bands, distro, and so on until today.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The constant encounter with the same thing/people/object, tends to build the boredom/feed-up feelings; and if it became unbearable, it will leads the person to get out/liberate themselves from the situation: the need to be different.&lt;/span&gt;” explain Yuswadi Saliya, an architect who live in Bandung, to respond my inquisition of this matter through e-mail. I suppose that’s what it is, the city of Bandung is indeed have millions of routine that induce its citizen to be always in the move of finding a new and different things. Nowadays, various young people communities are continuing to flourish in all over Bandung. It is not only in Sukasenang’s region, but also in other parts of Bandung. From Setiabudi street (Monik/Ffwd Records/Reverse Clothing Company), Citarum (347/EAT – Room No. 1), Moch. Ramdan (IF), City Hall (Barudak Balkot), Sultan Agung (Omuniuum), Saninten (Cerahati/Biosampler), Kyai Gede Utama (Common Room/ tobucil/Bandung Center for New Media Arts and Jendela Ide), Hegarmanah (Rumah Buku and VideoBabes), all the way through Ujung Berung (Ujung Berung Rebel/Homeless Crew), and so on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;City Biography: from the Colonial’s Era, Aktuil’s Period, Motorcycle Gang, through Barudak Punk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Since its inauguration as an open city by the Governor General J.B. van Heutz on February 21st 1906, the city of Bandung has always been a touristic, trade, and education city. This has an impact to its development on the upcoming era. Bandung use to be call as 'Parijs van Java', and being suggest as the center for European colony that came to visit the equatorial region by a scientist call Ir. R. van Hoevell. As a major city that has been growing since the colonial era, it is natural that nowadays Bandung is known as a city that receive various influence from many nations of the world, and not being isolated from its evolutions. In the Dutch’s colonialization era, the uprising of numerous cities’ infrastructure – especially transportation, trading, and education – became the main entrance of economic growth, variety of knowledge, and information into this city.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of the strongest influences that can be seen nowadays, for instance, is the style of architecture. We can still find various forms of European heritage left as distinctively deco-styled buildings, convention and entertainment halls. The most prominent ones, perhaps, are the Concordia Building (now Gedung Merdeka), and few other buildings on Braga and Asia Afrika Street. In some history records, noted that, in the colonial era, these buildings also used as venues for parties and shows to entertain the European community who then lived in Bandung. The late Haryoto Kunto even noted that Charlie Chaplin was once stopped by in Bandung and stayed at Savoy Homan hotel, on Asia Afrika Street. During those times, the majority of Bandung’s populations are European, who, further along the way would give significant influence for urban culture, not only to Indonesia, but also to almost all of the Asian Cities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the post-colonial era, the developments of transportation, communication facilities and information technology could only confirm Bandung’s position in the global world network. As the speed of information current accelerates, insurgent other forms of individual awareness, openness, freedom of expression and tolerance among communities, including youth communities in Bandung. The spirit to face the difference with their unique ways (nyeleneh/mbeling, kumaha aing!’= anti-establishment, up to me!) in few Bandung youth communities seemed to support the birth of resistance pattern; which you could recognize as a counter-cultural model. The habit to make counter-cultures, as responds to the more established culture, at the very least support the development of urban culture in Bandung’s urban population to be more dynamic. This matter also shows Bandung’s urban communities’ attitude that always have thirst for change and difference.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most of Indonesian community was surely aware of the era of Aktuil Magazine, which established in Bandung circa 1970, with the founders; Sonny Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, and Remy Sylado. From 1973 – 1974 the magazine even broke the record of sale 126 thousand copies and became a significant youth trendsetter. They even organized for Deep Purple band to play in Indonesia in 1975(4). In one record Remy Sylado noted that Aktuil Magazine was voicing the spirit of counter-culture to the established culture at that time. Furthermore, some of you might be aware of the most popular motorcycle gang in the city that existed from the 70’s to mid 80’s dominated by the fans of vintage motorcycle such as Harley Davidson, Ariel, BMW, etc. At that time, there were at least 2 respected vintage motorcycle gangs that being considered as rebellious: Black Angel and The Motor. These gangs also catalyze the forming of other vintage motorcycle gangs that are still exist until these days such as Biker’s Brotherhood(5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the 80s era, other than vintage motor community, the development of a small skate park at Traffic Garden (Ade Irma Suryani Garden) in mid 80’s also support the conceive of skateboard community that someday would be the seed of BMX, punk and hardcore groups that would be popular in the 90’s. Through these communities, the Do It Yourself (DIY) discourse was popularized. This discourse was a way of thinking that put individual initiative of forming counter-cultures to the place of high importance. Through this discourse, other than the development of local distro, clothing, record label, there were also names that would be household names for the city such as Pure Saturday, Puppen (disbanded on 2001), Pas, Koil, Jeruji, Full of Hate, Forgotten, Burger Kill, Jasad and many more. These bands were the bands that put on their acts in the underground music scenes in the venues such as GOR Saparua, Concordia, Bumi Sangkuriang, as well as local clubs, universities, high schools, etc., where the youth communities gathered with their own specific looks and attitude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A new phenomenon then emerged in the late 90’s. After the organizing of underground music events become more of a hassle from the point of view of permit and budget, in some period of times we could find almost every weekend some of the Bandung population paraded on the main streets such as Dago Street in the north area of the city. Many of the communities gathered while partying, continuing their habit that has shown its symptom since the beginning of the 90’s. Nowadays, there are more underground events; such as Contamination, Flower Pop, Bandung Berisik, One Blood, etc. Those events are mostly sponsored by local clothing companies, which currently already have more economic powers. There are also other scenes commenced by local clubs such as TRL Bar on Braga Street, Laga Pub in Asia Afrika Street, McPhisto Bar at Cihideung area, etc. In these bars, other than rock shows, there are also events for pop, jazz, electronic music fans; even experimental music fans are welcomed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Public Space Expansion: From the Streets to the Recycled Fashion Market&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Along with the impeachment of Soeharto regime in 1998, Bandung urban population also showed their new behavioral patterns. At least from 1996, people started to get used to communicate their aspiration as free as they liked in public space. This phenomenon showed in the intense interaction in the public spaces such as main streets, buildings, shopping malls, etc. In this era, some of the group from various communities from the college students, automotive fans, high school fans, street artists, unemployed, hobbyist, merchant etc. started to show their appearance on some of the main streets in Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the street, every city resident then meet to watch each other and being watched. Many forms of celebration in public areas then showed their different faces from time to time. From the events such as music concert, or those such as ITB Art Festival (Pasar Seni ITB), Dago Festival to the political demonstration or motorcycle races that emerged in the past 10 years in Bandung’s main streets. These things became special blessings for the development of music, also of Bandung’s street fashion, which later also accelerate the growth of existing distros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Other than those, some of the citizens then have recycled fashion facility in the Tegalega area that said once had 3000 tenants of imported used clothing. Different than distro, the used clothing business had moved from place to place such as, Cibadak, Kebun Kelapa until located at more underrated Tegalega since 1995. Even when the activity in Tegalega had been moved to other places, this place still has its specific influence in Bandung’s fashion development tendency. In this kind of recycled fashion places, the pieces of clothing that imported went straight to steam iron in the location then to be sold with very low prices by the vendors; who mostly are immigrants from Padang, West Sumatra. This place is the place where people could find used pieces of clothing in various style from t-shirt, sweater, party dress, leather jacket, various kinds of accessories to the vintage-styled clothing that looks old and once considered as old fashioned, yet now has became the inspiration of their everyday fashion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urban situation with specific characteristic like this surely would be very influential for the emerging of new phenomena that would continually gave colors to the growth of Bandung’s population. In addition, geographically, Bandung is located in the area that could be easily accessed. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Because Bandung isn’t a very big a city, I could easily do anything… the people are also friendly, very liquid, we’re all friends and equal&lt;/span&gt;,” said Dede on one occasion. Dadan Ketu also spoke in confirmation. According to him, they – who do business on local clothing – didn’t really find difficulties when they had to produce. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;If you want to look for fabrics, it’s very easy, you could just go to Otista street, Tamim, Cigondewah, Cimahi, Majalaya and there are plenty of stencil artists here, so it wouldn’t be a problem&lt;/span&gt;”, he explained.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Post 1990: Global Village, GMR and MTV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Not only in the 90’s era – when we see previous notes – we have to admit that young generation in Bandung was and still is influenced by the west (Western Europe and United States). Although, on its next phase it could not be denied that there were also other important influence for the youth scene growth in Bandung: media culture. As an example in the music scene, through the brilliance of the late Samuel Marudut, in 1992 a radio called GMR are established. This radio station is the only radio that would play demos of the new bands in the city, so it would trigger the music scene growth at that time. In addition to that, the radio also introduced bands from cities other than Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the other hand, the development in the areas of media technology and information also radically pushed the growth of Bandung urban culture even further. One of the examples is the development of recording technology that made possible for new bands to record their music with the use of computer so they wouldn’t have to rely on mainstream industry and imported products. Nowadays, music in Bandung could be produced from small studios, home, even in a boarding room. Furthermore the growth in the information technology also made it easy for every community to be in contact and got the information they needed. Through the internet that has developed since 1995, Bandung nowadays is a part of virtual network that opens doors to global network.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MTV’s presence at least gave pretty big role, for through this TV station, few of Bandung’s underground bands had their opportunity to be heard publicly wider. In addition, MTV presenters in the national broadcast also wear products from local clothing from Bandung, so their products became even more popular. The impact was not insignificant. For the last few years, Bandung citizen were forced to get used to the traffic jams almost in every weekends. Besides swarming the factory outlet, the visitors of Bandung’s also visit the distros, so they were also triggered an important growth in the local economic sector.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Through the existence of some youth communities that always procure their independently produced merchandises, at least we could see different groups of signs that were different than the previous era. When the previous young generation in Bandung were dependent on established industry and imported products, at this time few existing communities could produce their own necessities independently. In more than few occasions, counter culture discourse also gave colors to the community. Among the attitude of the communities, we could see it in a micro political point of view, which develop a specific character. To some of Bandung youth communities, music and fashion aren’t just a trend. They are forms of expression of their political independence, which could accommodate various personal aspirations. In this particular context, in the discussion of Bandung’s subculture groups development, music and fashion could also be considered as instruments that may explain various point of views and differences which followed the existence of the existing communities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The rapid growth also greatly supported by the existence of media such as TV station, radio, magazines, fanzines and mostly internet. Other than that, the media were making it more possible for communities to exist by expanding their networks to other cities than Bandung, even abroad. When Richard Mutter started to release albums under the 40124 labels in mid 90’s, he admitted to get purchases from underground fans from Japan, who bought the album via the internet. Through the 40124 labels in 1996, Richard also released a legendary compilation album titled “masaindahbangetsekalipisan”, consisted of songs from local bands such as Full of Hate, Rotten to the Core, Sendal Jepit, Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, etc. Meanwhile, Dadan Ketu stated that nowadays, it’s common if a visitor from abroad such as Malaysia or Singapore comes to the distro. “They usually come and buy off 100 cassettes to be sold on their countries, some of them pay in full and some of them pay by credit,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The realization of the forming of this wide network actually being more developed in 1997. On August 1997, a punk record label from France named Tian An Men 89 Records released a compilation album titled “Injak Balik! A Bandung HC/Punk comp”. This compilation supported by a number of Bandung bands such as Puppen, Closeminded, Savor of Filth, Deadly Ground, Piece of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, and All Stupid. Most of the subject matters from the music of this album consisted of various political statements conveyed straightly by the bands involved in the project. They did not stop here; in 1999, local label, FastForward Records released few albums from bands from abroad such as The Chinkees (USA), Cherry Orchard (France), 800 Cheries (Japan), etc. According to Marin, one of the founders of FastForward Records, communication media such as internet, fax machine and telephone network has at least great roles in the album production process of these bands. These days, it is quite common when a local label releases music that comes from abroad. Even few of the Bandung bands had the opportunity of their album being released by labels of other countries. Few of them are Homicide, Domestik Doktrin, Jasad, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The expansion of network which connect the music, fashion growth and the development of media and information technology; at the very least fabricated a new arrangement of culture from the view of ideology to its manifestation on the everyday living pattern in some of Bandung’s youth communities. These showed how the growth in Bandung urban situation could not be separated with the global stream. Along with the development, up to these days, the youth scenes of Bandung keep on growing to complete its arrangements with new faces and versions. Don’t be surprised if you face a group of youth with the style that similar to the youngsters from the other different hemisphere. This city had been part of other cities all around the world from it’s very beginning. Salute! Welcome to Bandung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kyai Gede Utama, 16 January 2003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;End Notes:&lt;br /&gt;(1) Some of this article has been translate into English under the title “Bandung Underground on Parade” for the Latitudes Magazine, March/April 2003 edition. In addition, some point of this article has been presented in the 7th Cultural Congress in Bukittinggi–Indonesia (20-22 October 2003), under the session of “Industrial Culture and Identity’s Struggle”.&lt;br /&gt;(2) An abbreviation refers to distribution outlet. This term became popular in mid 90’s to describe small store that sells variety of products such as records, t-shirt, local and import merchandise; usually run by group of people.&lt;br /&gt;(3) Based on interview with Richard Mutter.&lt;br /&gt;(4) From www.pantau.or.id, last download 1 March 2003.&lt;br /&gt;(5) Interview with Tommy Dwi Sudjatmiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photography:&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jeruji at Alkateri Street&lt;/span&gt;" by Gustaff H. Iskandar&lt;br /&gt;Taken during national election day on April 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-112815180235248794?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/112815180235248794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=112815180235248794' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112815180235248794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112815180235248794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2005/10/fuck-you-were-from-bandung-mk-ii-1.html' title='Fuck You! We&apos;re From Bandung! - MK II (1)'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-112814663977012190</id><published>2005-09-30T23:00:00.000-07:00</published><updated>2005-10-10T12:47:46.510-07:00</updated><title type='text'>Pemandangan dari Jembatan Pasupati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/kebon_kembang1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/400/kebon_kembang1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto ini saya ambil ketika saya berjalan-jalan sendirian di jembatan Pasupati. Jembatan ini baru dibuka beberapa bulan yang lalu (tepatnya saya lupa). Pembangunan jembatan ini sempat tersendat-sendat karena konon ada korupsi di tubuh pemerintah daerah yang punya inisiatif untuk membangun proyek ini. Seingat saya, ada banyak rumah yang harus digusur untuk membangun jembatan Pasupati. Selain itu banyak pohon yang juga harus di tebang, diantaranya pohon-pohon di daerah Pasteur dan Cikapayang. Banyak orang yang menyesalkan penggusuran rumah dan penebangan pohon. Selain banyak orang yang harus dikorbankan kepentingannya, pohon-pohon yang ditebang juga mengurangi jumlah ruang terbuka hijau kota Bandung yang kini semakin sedikit jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya masih kuliah tingkat akhir tahun 1999, banyak orang yang menentang pembangunan jembatan ini. Diantaranya adalah kelompok mahasiswa, pemerhati lingkungan dan terutama para warga yang tinggal di sekitar wilayah pembangunan Jembatan. Foto di atas saya ambil di wilayah Kebon Kembang, sebuah perkampungan padat di daerah Taman Sari. Ketika saya mengambil foto ini, teman saya yang bernama Irwan Bagja Darmawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alias&lt;/span&gt; Iweng tengah menggambari beberapa rumah di daerah itu. Iweng memang lahir dan besar di daerah ini. Karena itu, kehadirannya sudah tidak asing lagi bagi warga sekitar daerah Kebon Kembang. Dari dulu ia memang dikenal sebagai pelukis yang sering bekerja di ruang publik dan sering menggambari rumah tetangganya. Belakangan ia juga dikenal sebagai pemain gitar untuk band The Ganjoles dan The Panas Dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sebagian warga kota Bandung tampaknya sudah menjadi realistis dan menerima keberadaan jembatan ini. Suka atau tidak, jembatan Pasupati sudah menjadi bagian dari pemandangan kota Bandung yang baru. Meskipun tidak menyelesaikan masalah kemacetan di kota Bandung. Nyatanya memang hampir setiap akhir minggu warga kota Bandung masih harus berhadapan dengan kemacetan yang parah. Tapi nampaknya sebagian warga juga merasakan kegunaan jembatan ini. Minimal kalau kondisi lalu lintas sedang tidak padat, waktu tempuh perjalanan dari daerah Pasteur ke jalan Surapati dapat dikurangi. Kadang saya juga suka melihat warga kota nongkrong di sana untuk menikmati pemandangan dari atas jembatan. Kalau mengingat rumah yang digusur dan pohon-pohon yang ditebang, kehadiran jembatan yang memberikan kegunaan dan pemandangan kota yang baru memang terasa ironis. Pembangunan dan perubahan kota memang tampaknya tidak bisa dicegah, walau kadang terasa tidak manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Gede Utama, 30 September 2005&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-112814663977012190?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/112814663977012190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=112814663977012190' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112814663977012190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112814663977012190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2005/09/pemandangan-dari-jembatan-pasupati.html' title='Pemandangan dari Jembatan Pasupati'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17327509.post-112814114195237922</id><published>2005-09-30T21:18:00.000-07:00</published><updated>2005-10-01T10:13:04.540-07:00</updated><title type='text'>Welcome!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/1600/gustaff_02_low_res5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1430/1668/320/gustaff_02_low_res4.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Welcome to Heterologia! My name is Gustaff H. Iskandar. I'm working as an artist, currently lives and works in Bandung - Indonesia. Starting from 1999, I'm working in art management scene, wrote, participated in some visual art exhibitions and organized publishing of Trolley Magazine for some years (2000-2002). By the end of 2001, along with R.E. Hartanto and T. Reza Ismail, we founded Bandung Center for New Media Arts (http://www.commonroom.info/bcfnma), an organization that are focusing on the development of media art &amp; multidisciplinary artistic practice in Indonesia. In year 2003, together with some friends in Bandung, we developed Common Room (http://www.commonroom.info), an artist initiative space that are co-organized together by Bandung Center for New Media Arts &amp;amp; Tobucil. Having partnership with my wife, Reina Wulansari, and other colleagues, I'm working on for my art, working for the organization, curates exhibition, write and speak on discussions and symposiums.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17327509-112814114195237922?l=hetero-logia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hetero-logia.blogspot.com/feeds/112814114195237922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17327509&amp;postID=112814114195237922' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112814114195237922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17327509/posts/default/112814114195237922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hetero-logia.blogspot.com/2005/09/welcome.html' title='Welcome!'/><author><name>heterologia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13792066271253114814</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
