Pasar Seni ITB 2006. SERU!

**Oleh Gustaff H. Iskandar
Barangkali baru sekarang ini saya berkunjung ke Pasar Seni ITB sebagai pengunjung 100%! Rasanya aneh sekaligus mengharukan! Bagaimana tidak. Meskipun harus berdesak-desakan di bawah panas matahari, plus membawa satu ekor anjing labrador hitam kesayangan dan istri yang tengah hamil 7 bulan, toh ternyata saya masih bisa ketawa cekakakan sampe jungkir balik waktu ketemu teman-teman kuliah dulu. Apalagi waktu di intervensi oleh atraksi pertunjukan yoyo spektakuler oleh Oke Rosgana, alumni studio seni lukis 1995. Menurut saya dia ini satu-satunya master seni yoyo di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, Oke juga pernah mempertunjukan kebolehannya di Common Room pada acara pembukaan pameran perdana Sir Dandy Original.
Dulu, waktu tahun 1995 saya sama sekali tidak mengalami Pasar Seni secara langsung. Setelah bekerja keras selama 3 bulan untuk mempersiapkan acara ini, tepat setelah acara pembukaan saya ketiduran di Aula Barat ITB. Teman-teman baru membangunkan saya ketika ada acara foto bareng panitia di depan gedung FSRD. Itu pun sudah sore menjelang magrib! Tepat pada saat Pasar Seni yang heboh itu selesai dilaksanakan! Buat saya ini peristiwa paling absurd dalam hidup saya. Setelah bekerja berbulan-bulan mempersiapkan acara, pada hari H saya malah ketiduran! Padahal waktu itu teh saya rencananya mau ngeceng anak SR angkatan bawah. Gagal total semuanya!
Pada acara Pasar Seni 1995, saya diberi tugas untuk mempersiapkan panggung utama, mulai dari desain sampai produksi. Selama 3 bulan saya mengerjakan proyek pesanan Jenggo (ketua Pasar Seni ITB 1995, DI - 1990) bersama dengan Yaya (DP - 1993) dan Danang (DP - 1993). Selain itu, saya harus perform menjadi setan pas acara pembukaan Pasar Seni, barengan sama Tanto (SL - 1992) yang jadi genderuwo. Jadi kebayang kan capeknya. Sementara pada acara Pasar Seni 2000, saya tidak punya kesempatan untuk bersenang-senang karena pada saat itu saya harus membuat liputan khusus untuk majalah Trolley. Majalah keren yang sekarang udah bangkrut. Sial!
Nah, makanya pas acara Pasar Seni 2006 cita-cita saya akhirnya tercapai. Gila-gilaan di pasar seni bareng teman-teman dari berbagai jurusan dan angkatan. Untungnya sebelum ngajeprut saya sempat mengantar pulang istri dan anjing kesayangan pulang ke rumah. Jadi pas balik lagi ke Pasar Seni saya sudah jadi bujangan tulen 100%. Bisa gogoakan, ngajeprut bari cacarakatakan. Apalagi waktu disuplai rempah-rempah khas Pasar Seni dan minuman oplosan ala preman Taman Sari. Semua serasa mimpi! Asa keur lalajo Rolling Stones di konser Woodstock tea geuning! Hahahahhaah! Nuhun kepada para pemasok energi keceriaan Pasar Seni 2006: Den Aldi, Motul, Ojel, Thoriq, Arian, Kemot, Jenggo, Ayus, Hendi & istri, Conat, Dinar, Connie, Ita & GB, Oke, Bening & suami, Anton, Ucok Homicide, Tanto, Joko, Jon V, Puding, Goro, weeehh..geuning loba..pokonya DLL. lah!
Memang sih, beberapa waktu sebelum pelaksanaan acara Pasar Seni ada suara macam-macam. Mulai dari kritik persiapan Pasar Seni yang kurang matang, KMSR yang kurang solid, hubungan komunikasi yang buruk antara dosen, mahasiswa dan alumni, konflik dengan pihak rektorat ITB, protes dari warga lingkungan kampus, dsb., dsb. Tapi pada hari pelaksanaan, semua rasanya lenyap begitu saja. Ribuan orang berdatangan, pada belanja, ketawa-ketawa, joged dan pada senang-senang; meskipun ada juga yang kecopetan sampai kehilangan mobil. Buat saya sih, itu semua jadi picaritaeun yang bakal terus jadi bahan omongan diantara kita semua. Bukan hanya barudak Seni Rupa, tapi mungkin semua orang se-Indonesia. Atau malah oleh orang-orang di luar negeri juga, karena kemarin saya juga liat ada banyak turis anu gareulis!
Keesokan harinya saya baca artikel di harian Kompas dan Pikiran Rakyat. Kedua media ini menuliskan bahwa Pasar Seni berhasil menarik ribuan masyarakat untuk berduyun-duyun datang ke acara 4 tahunan yang sempat tertunda ini. ITB di intervensi selama satu hari oleh masyarakat umum! Kapan lagi coba! Selama satu hari masyarakat di beri kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan ITB yang selama ini dikenal angker dan berjarak dengan masyarakatnya. Buat saya, hal ini menunjukan bahwa Pasar Seni merupakan satu-satunya aset budaya berupa festival - yang memiliki skala acara yang sedemikin besar - yang saat ini dimiliki oleh ITB sebagai institusi pendidikan yang tersohor di Indonesia. Di Indonesia, barangkali cuma ITB yang punya acara seperti ini. Lewat Pasar Seni pula, ITB kemudian memiliki kesempatan untuk bertinteraksi dengan masyarakat, tanpa harus dibebani oleh berbagai macam prosedur yang ilmiah dan akademik.
Di harian Kompas, saya malah baca kalau para alumni dan dosen dari jurusan lain juga memanfaatkan momen Pasar Seni untuk reunian dan bersenang-senang sama keluarga. Buat saya sih memang di situ intinya. Orang datang ke Pasar Seni untuk senang-senang, reuni, ketawa-ketawa, sambil nonton karya seni dan belanja-belanja. Dan uniknya lagi, semua wahana tontonan, atraksi dan barang-barang yang di jual di Pasar Seni biasanya merupakan bahan-bahan yang sudah diseleksi. Jadi memang orang-orang datang untuk menikmati suasana yang sama sekali lain.
Untuk Pasar Seni 2006, saya pribadi merasa bahwa proses persiapan, pelaksanaan dan seleksi materi kurang dilakukan dengan teliti. Alasannya mungkin bisa banyak. Mulai dari pengalaman mahasiswa yang kurang, waktu persiapan yang kurang, kinerja organisasi yang kurang, sponsor yang kurang, dukungan dari ITB yang kurang, dsb.,dsb. Tapi kalo mau ngomongin yang kurang mah pasti banyak. Jadi sebetulnya nggak terlalu berguna juga kalau kita terlalu banyak membicarakan kekurangan. Buat saya sih yang kurang bisa diperbaiki nanti di Pasar Seni berikutnya.
Barangkali sekedar usul. Mungkin acara Pasar Seni frekwensinya bisa dibuat lebih dekat. Barangkali 2 tahun sekali cukup. Format bi-annual ini saya kira tepat kalau diaplikasikan buat Pasar Seni. Selain karena mahasiswa sekarang waktu lulusnya lebih cepat (4 tahun harus lulus loh!), format bi-annual juga bisa dimanfaatkan untuk memonitor perkembangan zaman yang sekarang bergerak sangat cepat. Barangkali untuk ke depan, pelaksanaan Pasar Seni juga bisa lebih terintegrasi dengan lingkungan ITB, sehingga teman-teman yang aktif di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi juga bisa unjuk kabisa di Pasar Seni. Karya-karya mereka juga keren-keren loh kalau dipamerkan :)
Segitu dulu ya pandangan mata dari Pasar Seni ITB 2006. Sorry kalau kepanjangan. Siapa tau pandangan matanya bisa berguna buat teman-teman yang nggak bisa datang ke Pasar Seni. Ngomong-ngomong di Pasar Seni 2006 saya berhasil membeli karya repro Pak Priyanto loh. Karya repro digital gambar kepulauan Indonesia yang amburadul ini saya beli dengan harga Rp. 300 ribu! (Rp. 200 ribu dapet minjem dari Conat, anaknya Pak Pri!). Lumayan, kenang-kenangan Pasar Seni 2006. Ok ya sampai ketemu di Pasar Seni 2008!
Kyai Gede Utama, 12 September 2006
** Penulis adalah seniman, bekerja untuk Bandung Center for New Media Arts/ Common Room Networks Foundation

