Tuesday, September 12, 2006

Sarai Media Initiative: Oase di Belantara Ruang Urban New Delhi


Oleh Gustaff H. Iskandar**

Baru-baru ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Sarai Media Initiative, sebuah organisasi yang aktif melakukan penelitian dan pengembangan praktik seni media baru yang terletak di kota New Delhi – India. Dalam bahasa setempat, Sarai memiliki banyak makna. Satu diantaranya adalah tempat terpencil yang terletak di tengah kota/jalan raya, dimana para pengelana biasa berkumpul untuk beristirahat di tengah-tengah perjalanan mereka. Sejak pertama didirikan pada tahun 2001, di tempat ini beragam praktik penelitian dan diskusi mengenai perkembangan teknologi media, pengembangan piranti lunak open source dan bermacam topik perbincangan mengenai persoalan ruang urban dikembangkan secara khusus dengan melibatkan orang-orang yang memiliki latar belakang pengetahuan yang beragam. Beberapa hasil penelitian dan pengembangan yang mereka lakukan secara teratur kemudian diterbitkan ke dalam kumpulan tulisan berjudul Sarai Reader, yang sampai saat ini telah terbit sebanyak 5 kali sejak pertama kali terbit pada tahun 2001. Hadir dengan format seri yang diklasifikasi melalui tema yang spesifik, semua dokumen Sarai Reader juga dapat diakses secara online dan di download secara gratis melalui http://www.sarai.net/.

Pada praktiknya, Sarai Media Initiative merupakan sebuah program khusus yang menjadi bagian dari Centre of the Study of Developing Societies (CSDS), sebuah lembaga penelitian yang juga bertempat di New Delhi. Organisasi ini didirikan oleh beberapa orang peneliti pada tahun 1963 sebagai wahana bagi pengembangan teori dan penelitian empirik mengenai proses transformasi sosial/politik, berikut dampaknya pada aktifitas sosial manusia. Salah satu kegiatan mereka antara lain misalnya adalah aktifitas Independent Fellowship Program, yang dikembangkan bersama dengan Sarai Media Initiative sejak tahun 2001. Terhitung sejak 5 tahun yang lalu, program ini setiap tahun mengundang para peneliti muda yang berasal dari beberapa wilayah di India, untuk melakukan penelitian mengenai topik yang mereka tawarkan sendiri. Dalam Independent Fellowship Program tahun ini misalkan, setidaknya ada sekitar 400 proposal penelitian yang kemudian menghasilkan 43 makalah penelitian dengan topik yang bermacam-macam, mulai dari penelitian mengenai identitas dan aspirasi kawula muda Tibet di New Delhi, bioskop di sekitar wilayah Maulana Shaukat Ali Road (Mumbai), sejarah aktifitas perdagangan maritim di India Barat, budaya penggunaan telepon umum di perkampungan, aktifitas kampanye politik mahasiswa, masalah kebebasan dunia cyber dalam konteks India, konflik pemanfaatan sarana air bersih di New Delhi, dsb.

Selain dipresentasikan dalam bentuk essay, beberapa hasil penelitian yang ada juga ditampilkan dalam bentuk karya yang menggunakan medium yang beragam, mulai dari karya cetak digital, komik, novel grafis dan karya video dokumenter, sehingga masing-masing peserta dapat memaparkan aktifitas penelitian mereka dengan cara dan pendekatan yang mereka kuasai dengan baik. Hal ini tercermin dari presentasi aktifitas penelitian tahun ini, yang tampil secara simultan dalam sebuah acara pertemuan yang berlangsung selama 4 hari, mulai dari tanggal 24 s/d 27 Agustus 2006 yang lalu. Selain para peneliti yang merupakan peserta program, pertemuan ini juga dihadiri oleh para ahli dan peneliti yang juga memiliki bidang keilmuan yang beragam, mulai dari sosiolog, seniman, arsitek, ahli sejarah, dsb., sehingga memungkinkan terjadinya dialog yang kaya dan kritis. Selanjutnya, makalah penelitian juga diterbitkan melalui internet sehingga dapat diakses dan dimanfaatkan secara terbuka oleh masyarakat umum secara cuma-cuma.

Walaupun tidak semua makalah penelitian dapat memaparkan persoalan secara tajam, namun dalam sesi presentasi semua dibicarakan secara panjang lebar, lengkap dengan komentar dan kritik yang dilontarkan secara terbuka oleh para peserta diskusi. Harus diakui bahwa kegiatan semacam ini memiliki peran yang penting dalam memupuk kebiasaan untuk melakukan beragam aktifitas pengamatan dan penelitian mengenai persoalan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Suddhabrata Sengupta, salah seorang pengurus Sarai Media Initiative menyatakan bahwa selain sangat bermanfaat bagi pengembangan informasi mengenai pengetahuan lokal yang dapat diakses secara terbuka oleh masyarakat umum, aktifitas semacam ini juga sangat berguna untuk membangun jaringan peneliti muda di India. Hal ini diakui oleh beberapa peserta yang sebelumnya pernah ikut ambil bagian dalam kegiatan Independent Fellowship Program semisal Nilanjan Bhattacharya yang berasal dari Kalkuta, dan koordinator program Vivek Narayanan. Beberapa diantara para peneliti ini masih terus menjalin hubungan kerjasama dan aktif menyelenggarakan kegiatan penelitian dan pengembangan di tempat asal mereka sampai sekarang.

Dalam kunjungan ini, saya juga berkesempatan untuk menyaksikan pameran tunggal dari Raqs Media Collective yang bertempat di Nature Morte Gallery – New Delhi. Anggota Raqs Media Collective (http://www.raqsmediacollective.net/) adalah juga para penggagas Sarai Media Initiative yang terdiri dari Monica Narula, Jeebesh Bagchi dan Shuddhabrata Sengupta. Didirikan sejak tahun 1992, mereka dikenal luas sebagai kelompok seniman yang banyak berkarya dengan menggunakan fotografi, film, instalasi dan media baru, selain juga aktif melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan teori media, kajian budaya urban dan praktik kerja multidisiplin bagi pengembangan piranti lunak open source dan berbagai kegiatan workshop maupun diskusi virtual melalui mailing list di http://mail.sarai.net/pipermail/reader-list/. Dalam pameran yang diberi tajuk "There Has Been a Change of Plan", Raqs Media Collective menampilkan kumpulan karya yang mereka buat selama kurun waktu 5 tahun terakhir, di mulai sejak tahun 2002 sampai dengan 2006. Pada kesempatan kali ini, mereka menyuguhkan beberapa karya pilihan yang merefleksikan pandangan mereka tentang berbagai persoalan ruang urban, perkembangan teknologi terkini dan situasi masyarakat kontemporer yang dipenuhi dengan konflik, rasa cemas, ketakutan dan alienasi. Ditampilkan dengan memanfaatkan beragam medium, mulai dari fotografi, video, instalasi dan benda sehari-hari; kesemuanya kemudian dikemas ke dalam labirin permainan tanda dan metafor yang sangat menarik.

Barangkali pameran ini adalah pameran tunggal mereka yang pertama di India setelah berkarir di bidang seni rupa selama kurang lebih 15 tahun. Seperti yang diungkap oleh Monica Narula dalam maling list Sarai, bahwa selama ini perkembangan seni kontemporer di India dapat dikatakan terlalu didominasi oleh pengertian seni visual yang sempit, sehingga membatasi seniman dan publik di India untuk berkarya dan menikmati karya seni rupa di luar seni lukis dan seni patung. Meskipun situasinya kini sudah berubah, namun hal ini setidaknya juga berpengaruh terhadap proses distribusi dan apresiasi karya-karya Raqs Media Collective yang selama 15 tahun ini lebih banyak tampil di sirkuit seni internasional semacam Documenta 11 (Jerman, 2002), Venice Biennale (Venice, 2003), Liverpool Biennale (Inggris, 2004), dst. Tentunya hal ini juga terjadi berkat artikulasi karya yang konseptual dari Raqs Media Collective melalui aktifitas mereka; yang juga dikembangkan melalui berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama beraktifitas bersama di Sarai Media Initiative dan CSDS.

Dari catatan di atas, barangkali kita dapat melihat bagaimana saat ini aktifitas seni kontemporer di India tidak lagi melulu berkutat pada kegiatan eksplorasi di bidang artistik belaka. Hal yang sama juga setidaknya tercermin melalui berbagai aktifitas seni yang dilakukan oleh beberapa seniman di Indonesia selama kurun waktu beberapa tahun terakhir, seperti misalnya melalui beberapa kegiatan yang dilakukan oleh kelompok ruangrupa di Jakarta dan Yayasan Seni Cemeti di Yogyakarta. Untuk beberapa hal, praktik penelitian dan pengembangan dalam aktifitas seni kontemporer saat ini tampaknya sudah lazim diterapkan sebagai bagian dari praktik dan strategi, sehingga memungkinkan terjadinya sebentuk interaksi yang intensif antara seniman dan lingkungan tempat mereka bekerja. Dalam hal ini, seni sebagai medium yang senantiasa mengungkap kondisi realitas kehidupan manusia rupa-rupanya juga dapat bekerja sebagai alat untuk menggali berbagai informasi dan pengetahuan yang tersembunyi diantara belantara realitas yang serba kacau dan tumpang tindih. Kembali merujuk kepada aktifitas yang dikembangkan oleh Sarai Media Initiative, tampaknya kehadiran mereka merupakan semacam oase kreatifitas yang memberikan nyawa pada kehidupan kota di New Delhi.

New Delhi, 31 Agustus 2006
**penulis adalah seniman, bekerja untuk Bandung Center for New Media Arts/Common Room Networks Foundation

Keterangan foto:
Judul karya: There Has Been A Change of Plan
Medium/tahun: Photo Print, 54 inches x 38 inches, 2006
Informasi detail: Dipamerkan pertama kali pada pameran There Has Been A Change of Plan, Nature Morte Gallery – New Delhi, 2006

Beberapa link yang memuat informasi mengenai proyek-proyek yang dikembangkan oleh Sarai Media Initiative:
http://www.sarai.net/cybermohalla/cybermohalla.htm
http://www.sarai.net/journal/02PDF/07cybermohalla/cybermohalla.pdf
http://www.sarai.net/journal/03pdf/184_196_cmdiaries.pdf
http://www.sarai.net/journal/04_pdf/48cm_logs.pdf
http://www.sarai.net/journal/05_pdf/06/02_cm.pdf
http://sarai.var.cc
http://www.rangeendeewarein.blogspot.com/
http://nangla.freeflux.net
http://blogger.xs4all.nl/scratchbookproject
https://mail.sarai.net/pipermail/reader-list/2004-December/004651.html

0 Comments:

Post a Comment

<< Home