Monday, October 10, 2005

Lawatan Empat Kota di Asia


Baru-baru ini saya mendapat kesempatan melakukan lawatan ke empat kota di wilayah Asia Tenggara untuk mengunjungi beberapa ruang seni dan bertemu dengan para seniman yang tinggal di sana. Adapun tujuan dari lawatan ini salah satunya adalah untuk membangun jaringan kerjasama diantara para seniman muda yang berdomisili dan bekerja beberapa kota Asia, selain untuk melakukan perbandingan perkembangan seni rupa yang ada di masing-masing kota.

Kota pertama yang saya kunjungi adalah Singapura. Ketika saya disana, kebetulan ada pembukaan ruang seni yang bernama 72-13 (website: www.72-13.com). Bertempat di sebuah bekas gudang beras tua yang bersebelahan dengan Singapore River, tempat ini kabarnya menjadi markas baru bagi kelompok TheatreWorks, sebuah kelompok teater yang sudah berdiri sejak tahun 1985. Selain memiliki ruang untuk seni pertunjukan yang dapat menampung sekitar 250 penonton, 72-13 rencananya juga akan berfungsi sebagai ruang galeri yang dapat digunakan sebagai tempat pameran dan residensi bagi seniman manca negara yang berasal dari berbagai latar belakang disiplin.

Di Singapura tampaknya pemerintah setempat memiliki kebijakan untuk merevitalisasi gedung-gedung tua yang bersejarah menjadi ruang untuk kegiatan seni semisal gedung pertunjukan, galeri, museum, dsb. Di kota Bandung kita juga memiliki beberapa gedung tua yang kini sering digunakan untuk kegiatan seni, yaitu Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan, Galeri Kita yang bertempat di Jalan Riau, Gedung AACC di Jalan Braga, dsb. Bedanya mungkin hanya sedikit, ruang-ruang seni di Singapura sepertinya didukung dengan perencanaan & sumber dana yang lebih memadai sehingga dapat dikelola dengan profesional dan dapat melayani kebutuhan warga kota Singapura dengan maksimal.

Lepas dari Singapura, saya kemudian melakukan kunjungan singkat ke Kuala Lumpur. Di kota ini ada beberapa galeri yang dikelola oleh pemerintah, perusahaan swasta, maupun perorangan. National Art Gallery (Balai Seni Lukis Negara) adalah salah satu contoh galeri yang dikelola oleh negara. Galeri yang telah berdiri sejak tahun 1958 ini sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah untuk dapat menjalankan kegiatannya. Galeri Petronas adalah salah satu contoh galeri yang dimiliki oleh perusahaan komersial. Terletak di KLCC Tower, galeri ini didirikan pada tahun 1993 oleh Petronas, sebuah perusahaan minyak terbesar yang dimiliki oleh pemerintah Malaysia. Sementara itu, galeri yang dikelola oleh perorangan contohnya adalah Galeri Seni Maya & Valentine Willie Fine Art yang terletak di daerah Bangsar Baru. Selain sering memamerkan karya seniman Malaysia, galeri ini juga rajin memamerkan karya seniman dari luar Malaysia. Agus Suwage dan Rahmaiani adalah seniman Indonesia yang tercatat pernah berpameran di galeri Valentine Willie Fine Art.

Dari Kuala Lumpur, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Ipoh, sebuah kota kecil yang berjarak kurang lebih 200 km dari Kuala Lumpur. Di kota ini saya diundang untuk menghadiri diskusi yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesenian Perak, sebuah organisasi budaya yang berdiri pada tahun 1996 (website: http://www.rumahykp.org.my). Dalam diskusi tersebut kami membicarakan banyak hal, terutama beberapa perbandingan perkembangan seni rupa di masing-masing negara paska 1998. Selain itu, kami juga mendiskusikan berbagai aspek narasi mikro yang terkait dengan perkembangan seni rupa, terutama berbagai peristiwa sejarah kecil yang selama ini biasanya “tersembunyikan” oleh alur sejarah formal yang kebanyakan diproduksi oleh berbagai institusi yang memiliki kepentingan politik tertentu.

Perbedaan yang terasa sangat mencolok adalah kebanyakan institusi seni di Malaysia didukung penuh keberadaannya oleh pemerintah setempat. Namun dukungan ini biasanya disertai dengan kontrol yang ketat dari pemerintah Malaysia, sehingga seniman di sana tidak dapat terlampau bebas mengekspresikan aspirasi artistiknya. Situasi semacam ini tampaknya berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia. Walaupun perkembangan seni di Indonesia terasa lebih semarak, dukungan pemerintah terhadap aktifitas seni terasa sangat minim. Oleh karena itu kebanyakan institusi seni di Indonesia dikelola secara mandiri oleh para seniman maupun masyarakat umum. Ambil contoh misalnya Galeri Nadi dan ruangrupa di Jakarta, Selasar Sunaryo Art Space dan Nyoman Nuarta Sculpture Park di Bandung, ataupun Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta.

Perjalanan saya kemudian diakhiri dengan mengunjungi kota Bangkok di Thailand. Di kota ini saya berkesempatan untuk menghadiri pembukaan pameran yang menampilkan karya 3 seniman lokal, yaitu Vasan Sitthiket, Adulphan ls-sarangul-an-ayutdhaya dan “Bobby” Suphasit Vong-rom-ngen. Seri karya Vasan Sitthiket yang diberi judul “Sex Bomb: 24 Hours” sempat mencuri perhatian saya melalui ungkapan yang banal terhadap berbagai peristiwa politik global, yang dibumbui dengan humor & lelucon yang konyol. Sebuah kumpulan ekspresi satir yang mengingatkan saya akan karya Isa Perkasa & Tisna Sanjaya. Sementara itu Adulphan dan Bobby menampilkan seri lukisan pemandangan yang lebih tenang dan terasa sederhana.

Selain itu, saya juga sempat mengunjungi The Rajata Art House, sebuah ruang inisiatif yang dikelola oleh seniman muda Thailand yang memiliki latar belakang yang beragam. Di tempat ini, berbagai kegiatan seni yang melibatkan publik banyak dilakukan. Aktifitas mereka hampir mirip dengan kegiatan Jendela Ide yang berdomisili di kota Bandung dan Rumah Dunia di kota Serang. Salah seorang dari mereka sempat menceritakan kalau sebenarnya gagasan membuka tempat ini berawal dari diktat penelitian mereka mengenai managemen budaya. Dibantu oleh dosen (Pracamkrong Pongpaiboon) & beberapa teman dekat, akhirnya gagasan yang mereka tuliskan di dalam tugas kuliah berhasil direalisasikan dan mendapatkan sambutan yang baik di sebagian kalangan warga kota Bangkok.

Kyai Gede Utama, 11 Oktober 2005

Keterangan foto:
Berfoto bareng bersama teman-teman di Yayasan Kesenian Perak

5 Comments:

Blogger Jessica Klarkson said...

Microformats v Structured Blogging: A Small War With Big Consequences
Posted by Stowe Boyd At the web 2.0 conference. I was able to sit down with the leading advocates for two very different advocates for two very different approaches to enriching the information embedded in ...
Find out how you can buy and sell anything, like things related to private road construction on interest free credit and pay back whenever you want! Exchange FREE ads on any topic, like private road construction!

8:19 PM  
Blogger jobs123 said...

Star Wars Pet Costumes
Jazz your pet up this pooch with a Star Wars makeover. Probably very irritating for the dog and guaranteed to get the RSPCA knocking on your door, these Star Wars costumes are nevertheless a hoot.
Hi, I was just blog surfing and found you! If you are interested, go see my dating related site. It isnt anything special but you may still find something of interest.

11:31 PM  
Blogger jenna said...

I love your information on Edi I bookmarked your blog and will be back soon. If you want, check out my blog on Edi Exposed - please come by

4:36 PM  
Blogger autocounsel said...

Click here to learn more about volvo s40 review

6:46 AM  
Blogger sdRay said...

San Diego is having a Hot Rod Halloween on Sunday, October 30. If you love european auto show then you will want to be there! All kinds of european auto show will be in attendance. For more information go to european auto show
See Ya There!!

2:57 PM  

Post a Comment

<< Home