Pemandangan dari Jembatan Pasupati

Foto ini saya ambil ketika saya berjalan-jalan sendirian di jembatan Pasupati. Jembatan ini baru dibuka beberapa bulan yang lalu (tepatnya saya lupa). Pembangunan jembatan ini sempat tersendat-sendat karena konon ada korupsi di tubuh pemerintah daerah yang punya inisiatif untuk membangun proyek ini. Seingat saya, ada banyak rumah yang harus digusur untuk membangun jembatan Pasupati. Selain itu banyak pohon yang juga harus di tebang, diantaranya pohon-pohon di daerah Pasteur dan Cikapayang. Banyak orang yang menyesalkan penggusuran rumah dan penebangan pohon. Selain banyak orang yang harus dikorbankan kepentingannya, pohon-pohon yang ditebang juga mengurangi jumlah ruang terbuka hijau kota Bandung yang kini semakin sedikit jumlahnya.
Ketika saya masih kuliah tingkat akhir tahun 1999, banyak orang yang menentang pembangunan jembatan ini. Diantaranya adalah kelompok mahasiswa, pemerhati lingkungan dan terutama para warga yang tinggal di sekitar wilayah pembangunan Jembatan. Foto di atas saya ambil di wilayah Kebon Kembang, sebuah perkampungan padat di daerah Taman Sari. Ketika saya mengambil foto ini, teman saya yang bernama Irwan Bagja Darmawan alias Iweng tengah menggambari beberapa rumah di daerah itu. Iweng memang lahir dan besar di daerah ini. Karena itu, kehadirannya sudah tidak asing lagi bagi warga sekitar daerah Kebon Kembang. Dari dulu ia memang dikenal sebagai pelukis yang sering bekerja di ruang publik dan sering menggambari rumah tetangganya. Belakangan ia juga dikenal sebagai pemain gitar untuk band The Ganjoles dan The Panas Dalam.
Saat ini sebagian warga kota Bandung tampaknya sudah menjadi realistis dan menerima keberadaan jembatan ini. Suka atau tidak, jembatan Pasupati sudah menjadi bagian dari pemandangan kota Bandung yang baru. Meskipun tidak menyelesaikan masalah kemacetan di kota Bandung. Nyatanya memang hampir setiap akhir minggu warga kota Bandung masih harus berhadapan dengan kemacetan yang parah. Tapi nampaknya sebagian warga juga merasakan kegunaan jembatan ini. Minimal kalau kondisi lalu lintas sedang tidak padat, waktu tempuh perjalanan dari daerah Pasteur ke jalan Surapati dapat dikurangi. Kadang saya juga suka melihat warga kota nongkrong di sana untuk menikmati pemandangan dari atas jembatan. Kalau mengingat rumah yang digusur dan pohon-pohon yang ditebang, kehadiran jembatan yang memberikan kegunaan dan pemandangan kota yang baru memang terasa ironis. Pembangunan dan perubahan kota memang tampaknya tidak bisa dicegah, walau kadang terasa tidak manusiawi.
Kyai Gede Utama, 30 September 2005

1 Comments:
Hi Gustaff, I was surfing for a few things whn i stumbled upon your blog. Kamu temannya Rizman KYTV dari singapura kan? Waktu saya ke bandung kemarin, sempat singgah ke tobucil, ada juga nyari kamu. Anywhos, i'd just like to say hi.. so.. Hi :)
Post a Comment
<< Home